Langit mu bukan arahku
Pada celah waktu yang tak tercatat, aku duduk sebagai kesadaran yang menatap diri sendiri; menimbang rasa yang tak lagi bisa kusebut sederhana, sebab perasaan ini tumbuh melampaui batas yang mampu kupelihara. Menjelma tuntutan yang perlahan menghabiskan seluruh diriku, tanpa pernah bertanya: Apakah aku cukup untuk menampungnya? Barangkali ini yang orang sebut cinta: sesuatu yang datang tanpa meminta kelayakan, lalu menetap tanpa peduli kesiapan; memilih, bahkan saat diri merasa tak terpilih, dan tinggal, bahkan ketika logika diam-diam menyusun alasan untuk menyerah, seolah kepergian adalah satu-satunya bentuk dari sisa kewarasan. Kau hadir seperti musim yang tak pernah kumiliki, membawa terang yang tak sanggup kutanggung lama; aku mencintaimu, Ya. Dengan cara yang utuh dan gentar, seperti laut mencintai bulan: mendekat tanpa pernah menyentuh, menarik seluruh pasang hanya untuk kembali surut dalam diam, mengulangi kehilangan yang sama dengan kesetiaan yang nyaris bodoh. ...