Langit mu bukan arahku

Pada celah waktu yang tak tercatat,
aku duduk sebagai kesadaran yang menatap diri sendiri;
menimbang rasa yang tak lagi bisa kusebut sederhana,
sebab perasaan ini tumbuh melampaui batas yang mampu kupelihara.
Menjelma tuntutan yang perlahan menghabiskan seluruh diriku,
tanpa pernah bertanya: Apakah aku cukup untuk menampungnya?
 
Barangkali ini yang orang sebut cinta:
sesuatu yang datang tanpa meminta kelayakan,
lalu menetap tanpa peduli kesiapan;
memilih, bahkan saat diri merasa tak terpilih,
dan tinggal, bahkan ketika logika diam-diam menyusun alasan untuk menyerah,
seolah kepergian adalah satu-satunya bentuk dari sisa kewarasan.
 
Kau hadir seperti musim yang tak pernah kumiliki,
membawa terang yang tak sanggup kutanggung lama;
aku mencintaimu, Ya.
Dengan cara yang utuh dan gentar,
seperti laut mencintai bulan: mendekat tanpa pernah menyentuh,
menarik seluruh pasang hanya untuk kembali surut dalam diam,
mengulangi kehilangan yang sama dengan kesetiaan yang nyaris bodoh.
 
Kau melangkah dengan arah yang nyaris tak tersentuh nalar,
meninggi, menjauh, menjadi kemungkinan yang semakin asing;
sementara aku tetap di sini—
mengakrabi batas, memelihara cukup, berusaha menerima rendah,
menjadi saksi bagi langkahmu yang tak pernah menoleh ke belakang,
meski aku pernah kau sebut sebagai tempat pulang.
 
Ironis, bukan?
Kita sama-sama jatuh, namun gravitasi kita berbeda;
kau terlempar ke langit yang lebih luas,
aku tertahan di bumi yang tak pernah benar-benar kau tinggalkan,
dan di antara itu—kita saling memanggil tanpa pernah benar-benar sampai,
seolah jarak adalah satu-satunya hal yang setia pada kita.
 
Kau berkata: Cinta tak mengenal ukuran—
dan aku ingin mempercayai itu sepenuh luka;
namun dunia selalu punya cara
untuk mengubah perasaan menjadi perbandingan yang kejam,
menjadikan "kita" sekadar wacana yang mudah dipatahkan oleh kenyataan,
oleh pihak lain yang lebih pantas, oleh harapan yang bukan aku.
 
Di matamu aku adalah rumah yang ingin kau pulangi,
tempat letihmu boleh runtuh tanpa dinilai;
tempat di mana kau tak perlu menjadi siapa-siapa selain dirimu sendiri,
dan aku menerimanya sebagai anugerah yang hampir tak masuk akal.

Namun di mata mereka, aku hanyalah kemungkinan yang ganjil,
sebuah anomali yang terlalu asing untuk disandingkan denganmu,
sebuah cerita yang bahkan sebelum dimulai telah dianggap keliru,
dan diam-diam diminta selesai tanpa pernah diberi kesempatan tumbuh.
 
Betapa rumitnya menjadi aku:
mencintaimu tanpa syarat,
namun meragukan diriku dengan sangat teratur;
seolah aku adalah kesalahan yang tak pernah selesai diperbaiki,
sebuah jeda panjang dalam kalimat indah yang seharusnya kau miliki,
yang sewaktu-waktu bisa terhapus tanpa meninggalkan bekas berarti.
 
Ada malam-malam ketika aku hampir percaya—
bahwa cukup bagimu adalah cukup bagiku;
bahwa cinta yang tumbuh di antara kita bisa berdiri tanpa restu dunia,
tanpa harus menunduk pada ukuran-ukuran yang tak kita ciptakan.

Namun pagi selalu datang dengan wajah yang lebih jujur,
mengingatkanku bahwa realitas tidak pernah benar-benar sudi bernegosiasi,
bahwa ada hal-hal yang tetap tak bisa dimiliki meski saling mencintai.
 
Perlukah aku meninggikan diri hingga kehilangan pijak?
Mengejarmu sampai aku tak lagi mengenali siapa diriku?
Atau belajar diam—
merelakanmu tumbuh di langit yang memang bukan milikku?

Menjadi bumi yang tetap setia, meski tak lagi kau pandang sebagai arah pulang,
dan menerima bahwa cinta, kadang, hanya selesai sebagai rasa—
bukan sebagai kita.
 
 
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael 
Bondowoso, 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)