Postingan

Menampilkan postingan dengan label Prosa Liris

Diluar jangkauan pengertian

Langit menggulung pikirannya sendiri. Ia meneteskan waktu, ke dalam dada yang belum selesai belajar tenang. Udara berjalan tanpa penjelasan, membawa kabar dari sesuatu yang tak pernah sempat kita tanyai. Akar bergumam di bawah tanah, Dia berbicara dalam bahasa yang tak dimengerti siapa pun. Batang mendengarkan. Daun menafsir. Dan hening menjadi penerjemah. Rerumputan menunduk, bukan karena kalah, Mereka tahu cara memahami angin. Mereka tumbuh tanpa bertanya, dan tetap hijau bahkan setelah dilupakan. Hujan menulis pesan di telapak bumi — hurufnya sudah pudar, Meski begitu, tetap terbaca oleh hati yang sabar menunggu reda. Ada tangan yang tidak terlihat. Ia menata ulang kejatuhan, menjadikannya bentuk baru dari pulang. Bayang-bayang menua di dinding sore, namun tak pernah benar-benar hilang. Waktu berjalan tanpa bunyi, tapi kita tahu: ada yang sedang diperbaiki, di luar jangkauan pengertian. Langit menyimpan catatan di antara awan, tentang siapa yang tetap jernih saat segalanya menjadi k...

Perempuan yang Menyiram Duri dengan Air Suci Lalu menangis saat tangannya sendiri terluka.

Ada perempuan yang menutup matanya dengan kain moralitas, lalu berjalan seolah bumi ini terlalu kotor untuk disentuh kakinya. Ia suka bicara tentang akhlak dan kelembutan, padahal lidahnya lebih tajam daripada cermin yang ia gunakan untuk menilai wajah orang lain. Setiap langkahnya terdengar seperti doa, namun isinya sumpah serapah yang berpakaian sopan. Ia lihai — sangat lihai — memainkan nada rendah hati sambil menancapkan jarum kecil di reputasi orang. Setiap senyum yang ia lempar bukan salam, tapi strategi. Ia menyebut dirinya berpengalaman, namun pengalaman itu hanya membuatnya mahir mengulang kebodohan dengan cara yang lebih elegan. Katanya sudah dewasa, tapi kedewasaannya seperti bunga plastik di meja makan — tampak hidup, tapi tidak pernah tumbuh. Ia memuja Tuhan dengan bibir, namun memuja dirinya sendiri di dalam hati. Dan di antara jari-jari yang tampak lembut itu, ia menggenggam bara gosip yang tak pernah padam. Setiap nama orang lain adalah dupa, dibakar perlahan agar ia bi...

Aku Menolak Minta Maaf (Sebuah elegi untuk mereka yang dibenci hanya karena berani menjadi diri sendiri).

Aku lahir bukan dari rahim kesempurnaan, hanya dari luka yang belajar berdandan. Tapi entah mengapa, setiap kali aku lewat, dunia seperti tergesa-gesa menilai. Aku tersenyum, mereka memicing. Aku diam, mereka berbisik. Seolah hidupku adalah panggung publik, dan napasku tiket gratis untuk mencemooh. Katanya aku sok cantik. Ah, tentu saja. Mungkin cermin di rumah kalian sedang mogok memantulkan pujian. Padahal aku tidak pernah memaksa siapa pun untuk menatapku seperti selembar dosa yang mengilap. Tapi memang begitulah—manusia lebih mudah membenci bunga karena tak sanggup menumbuhkan taman di dadanya sendiri. Mereka memanggilku sok bijak, padahal aku cuma berusaha tidak gila di tengah kebisingan dunia yang pura-pura waras. Tapi rupanya, keheningan juga dianggap kesombongan. Orang yang diam disangka menghina, yang bicara dianggap menggurui, yang menangis dituduh drama, yang tertawa dibilang haus validasi. Apa lagi yang harus kulakukan? Mungkin aku harus menjelma jadi batu bata agar mereka ...

Lautan yang Kutunggu, Api yang Kutahan

Dia berkata ia mencintaiku, dengan nada yang seperti peluit kapal di tengah kabut, menandai harapan yang tak pernah kuketahui kapan datangnya. Katanya ia akan menolongku, mengangkat aku dari segala lubang yang tak terlihat oleh mata, membawa aku ke rumah yang seharusnya kami bangun bersama. Aku percaya. Aku menunggu seperti pohon yang menunggu kilat menembus malam, tanpa sadar, setiap janji yang jatuh padaku meneteskan racun lembut ke dalam nadi. Lalu aku melihatnya—tidak lagi di sisi yang kusebut rumah, tapi di pelukan perempuan lain, yang tertawa seolah dunia hanya milik mereka. Tangannya menari di kulitnya, bibirnya bersatu, dan aku berdiri seperti cermin pecah, menatap serpihan diri sendiri. Jantungku berdetak setara dengan ribuan gong yang hancur, napasku tersengal, suara tangisku tertelan oleh dinding kosong. Aku ingin berlari, menjerit, menghancurkan segalanya. Tapi aku hanya bisa diam, menelan kaca yang menembus tulang, dan menyadari bahwa cinta bisa lebih kejam daripada kemati...

Kemesraan tak perlu teori

Tubuhmu dekat denganku, hangat, menenangkan, seperti dunia berhenti sebentar. Bibirmu menyentuh bibirku perlahan-lahan, menempel seperti janji kecil untuk menutupi keraguan yang diam-diam menunggu. Tanganmu menyusuri kulitku dengan lembut, menghapus semua garis tegang di punggung dan bahuku. Aku terbuai dalam kehangatan itu, merasakan kenyamanan yang aneh, damai, menipu. Di momen ini, rasanya tidak ada larangan, hanya napas kita yang bersilang. Kita diajari bahwa menyentuh, berciuman, atau bermain dengan rasa itu wajar— bahkan aman, selama kita tahu “caranya”. Padahal ada sesuatu yang menekan di dada, suara hati yang berbisik: “Beberapa batas tidak seharusnya disentuh.” Ironi mengalir halus di antara tiap desir: kebebasan yang diberikan membuat kita terlena, sementara beberapa hal yang seharusnya tabu kini dibungkus hangat, nyaman, dan erotis. Aku menutup mata ketika bibirmu mengecup bibirku, merasakan setiap desir yang mengalir seperti arus hangat di kulit  Setiap sentuhan menenan...

Tikus di lorong belakang

Seekor tikus gemar berbisik di lorong belakang, Riuh di tumpukan sampah, menyusun cerita lalu menjualnya. Menyindir dengan taring seolah kata-katanya bisa menundukkan langit, padahal hanya meneteskan ludah pahit yang menguap sebelum menyentuh tanah. Lucu sekali, yang menuduhku murah adalah mereka yang menjajakan harga dirinya sendiri. Apakah aku harus menawar? Tidak. Aku hanya penonton yang tahu kualitas kain dari benangnya. Kau pikir dengan bisikanmu, orang-orang akan buta dan tuli? Sayang sekali, mereka dewasa, mereka tahu bedanya emas dan kawat. Fitnahmu berisik, nyolot, Tak berbobot— seperti tong kosong dipukul keras agar terdengar nyaring padahal hampa. Aku muak? Iya. Kesal? Tentu. Tapi kebijaksanaan menuntunku untuk tidak berenang di kolam keruh yang kau isi dengan lumpur. Aku tidak ingin tanganku kotor hanya untuk membalas najismu. Lidahmu panjang, Namun tali kebenaran lebih panjang lagi. Dan percayalah— tak ada karung yang bisa menutup busuk bangkai selamanya. Kebenaran akan ke...

Akulah yang tetap tinggal

Aku pernah menjadi tanah yang menampung hujan, Basahnya tak menyakitkan, Tapi lama-lama longsor juga. Sebab rintik pun tahu caranya menggurat luka. Pernah kupelajari cara dunia bicara, Tak lewat suara, tapi lewat kehilangan tiba-tiba. Maka saat engkau bertanya, “Apakah aku takut kehilanganmu?” Ketahuilah— Tanganku terbiasa menggenggam yang akhirnya melarung. Aku tetap ingin menjagamu, Seperti langit menjaga sisa jingga setelah matahari pulang, Tak ada jaminan terang, Namun masih ada sisa warna yang enggan hilang. Engkau mungkin tak melihat, Tapi aku berdiri di tengah gempa yang tak terdata, Menjadi sunyi yang menyangga reruntuhan, Menjadi kabut yang tak pernah cukup padat untuk ditangkap, Namun tetap menyelimuti pagi agar ia tak merasa telanjang. Siapa bilang retakan hanya milik benda pecah? Hatiku pun telah memuat celah, Namun namamu tinggal di sela-sela— Tak tergoyah, tak tergantikan. Rasa ini tak butuh alasan, Ia hidup seperti api kecil di dasar danau beku, Tak tampak, tak dipuji, N...

Dariku untuk Aku

Tanganmu hanya sepasang, dan itu pun telah cukup melelahkan untuk sekadar memeluk dirimu sendiri, pada hari-hari yang terasa terlalu panjang. Maka, jangan kau paksakan menggenggam segalanya— duka yang bukan milikmu, harapan yang tak pernah dititipkan padamu, dan luka-luka lama yang bahkan tak pernah kau torehkan sendiri. Kau bukan penjaga semua perasaan. Tidak wajib menjadi pelipur bagi kesedihan dunia. Kau berhak memilih apa yang ingin kau simpan, dan apa yang perlu kau lepaskan, dengan tenang, tanpa rasa bersalah. Kau tidak harus kuat setiap waktu. Namun, ingatlah: lemah bukan berarti kalah, dan hancur bukan berarti usai. Dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena jiwamu sedang hancur.  Matahari tetap akan terbit, meskipun kau memilih berdiam di balik tirai kamar dan keraguan. Tak apa. Hari ini, kau boleh merasa cukup dengan bernapas. Dengan membuka mata, dan tak menuntut diri untuk terus menjadi jawaban. Peluklah dirimu dengan segenap kasih yang mungkin belum pernah kau ter...

Tak Lagi Kuat

Hamba pernah mencoba menanggung semuanya sendiri, dengan kedua tangan yang gemetar, dengan hati yang compang-camping oleh harapan yang selalu hamba tambal, Namun terus robek lagi. Setiap pagi hamba bangun, memakai wajah yang tak pernah jujur pada dunia. Tak ada yang tahu, bahwa senyum ini adalah upaya terakhir untuk tidak runtuh di hadapan mereka. Hamba ingin menjadi kuat— Namun, kekuatan itu perlahan menjadi kutukan. Semua datang untuk bersandar, tapi hamba tak pernah punya tempat untuk bersandar balik. Hamba menjadi rumah yang tak punya atap untuk dirinya sendiri. Ya Allah, hamba tidak sedang memberontak, hamba hanya… sangat lelah. Lelah menjadi yang selalu bisa, lelah menjadi yang tak boleh salah, lelah menjadi penampung luka yang bahkan tak sempat mengobati lukanya sendiri. Jika hidup adalah laut, maka hamba ini perahu kecil yang sudah lama kehilangan dayung dan hanya terbawa arus, berharap tidak karam, meski tahu tak ada daratan dalam waktu dekat. Hamba sadar, hamba bukan hamba ya...