Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Cinta seharusnya mengarah ke langit

Cinta adalah rahasia yang diselipkan di dada manusia, bukan rasa yang tumbuh dari tatap, ia adalah cahaya yang menuntun jiwa menemukan arah pulang. datang tanpa suara, menetap tanpa janji, Menjadi alasan bagi hati untuk beriman pada kehadiran yang tak terlihat. Cinta bukan sekadar hadir di antara dua insan, ia lahir dari ruang sunyi tempat hati bertemu niat. Bukan dari pandang yang jatuh di mata, melainkan dari rahasia yang dbisikkan dalam doa. Ada cinta yang tak menyentuh, tapi melindungi, yang tidak berjanji selamanya, namun membuat waktu seolah berhenti setiap kali namanya disebut dalam sujud. Ia tidak menuntut jarak, Sebab tahu jarak hanyalah ujian untuk melihat siapa yang mencintai tanpa menggenggam. Cinta sejati bukan panas yang membakar, melainkan cahaya yang menuntun gelap menuju tenang. Ia datang lembut seperti angin yang mencium dedaunan, lalu pergi diam-diam tanpa meninggalkan luka. Jika cinta itu hadir dari-Nya, ia akan membuatmu tunduk tanpa diperintah, teguh tanpa dipaksa...

Aku bisa sendiri

Aku telah berkali-kali kehilangan, hingga jantungku belajar berdetak sendiri, tanpa perlu irama dari langkah siapa pun yang pergi. Setiap wajah yang datang adalah denyut sementara, yang membuat nadiku melonjak, lalu surut—meninggalkan sunyi seperti ruang paru yang tak lagi ingin diisi napas siapa-siapa. Lalu kesendirian datang, menyusup seperti darah yang mencari jalannya sendiri, merayapi sendi-sendi yang dulu rusak oleh perpisahan, membisikkan: “Lihat, kau masih hidup, meski tanpa siapa pun.” Ia tidak menghukum, ia mengalir—menjadi sumsum tempat aku menumbuhkan keberanian baru, menjadi hati yang menampung sisa indah dari luka-luka lama, menjadi kulit yang paham, bahwa setiap sentuhan pun punya masa usai. Saatnya aku membuka pintu setiap hari tanpa tanya siapa yang datang, tanpa tangis pada yang pulang. Hidupku adalah tubuh, dan aku jantung yang menentukan iramanya sendiri. Akhirnya aku tahu— kehilangan bukan kematian, melainkan regenerasi sel dari rasa yang telah mati. Dan jika esok ...

Bung, Negeri ini Lupa Malunya

Bung, jika kau menatap negeri ini dari atas sana, mungkin kau akan tertawa — atau muntah. Sekarang bangsa ini terlalu pandai berdandan dengan kata bangga, padahal hatinya jahat dan penuh kompromi. Mereka berbaris tiap tanggal tujuh belas, mengangkat tangan, menatap bendera, tapi tak tahu — merah itu bukan sekadar warna, itu darah yang dulu tumpah agar kita tak lagi tunduk. Namun lihatlah, Bung, kami — rakyat di tanah ini — masih sibuk menunduk, bukan karena hormat, melainkan takut kehilangan pekerjaan, takut bicara jujur, takut lapar. Getir, Bung… getir menjadi rakyat di tanah yang katanya merdeka, tapi masih harus menunggu izin untuk bermimpi. Lagu kemerdekaan masih dinyanyikan: Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya . Tapi jiwanya disewakan, badannya dilelang, dan pikirannya disandera oleh tagihan dan janji palsu. Bung Hatta mungkin akan menulis lagi tentang kejujuran, lalu disebut utopis oleh mereka yang lihai menukar dosa dengan donasi. Tan Malaka pasti tersenyum pahit — melihat log...

Kuas yang menolak mengganti warna

Hitam menetes dari ujung kuas, tinta gelap yang enggan dihapus pagi. Di atas kanvas yang telah menua, sisa-sisa warna bercampur dalam kelelahan panjang. Ada merah yang masih berdenyut di sela abu-abu, ada biru yang terus menunggu arti dari sunyi. Kuas menatap noda lama seperti seseorang yang memandangi kenangan yang dikhianati waktu. Ia tahu, setiap penghapusan adalah pengkhianatan kecil— bukan terhadap seni, melainkan pada keberanian untuk jujur. Tiap sapuan baru hanya menutup luka lama dengan lapisan tipis yang tidak diharapkan Cat kering berdesis pelan, mengingat hari ketika ia masih percaya bahwa warna bisa menyembuhkan. Sekarang ia menjadi kerak waktu di atas mimpi yang terlalu sering direvisi. Kuas pun menolak bergerak, ia menegakkan diri di atas palet seperti prajurit tua yang tahu: perang ini tak akan dimenangkan oleh siapa pun. Kanvas menunggu dengan kesabaran seorang martir, menyambut abu sebagai pengganti penghargaan. Ia tak lagi berharap dipamerkan, cukup dikenang sebagai t...

Kita adalah Burung dan Ikan yang Tak Sudi Merendah (tentang dua jiwa yang mencinta, namun tak pernah benar-benar bertemu karena kesombongan).

Burung jatuh cinta pada ikan di dasar samudra, pada tatap bening yang tak tersentuh udara. Di antara mereka, langit dan laut berseteru diam, seolah semesta enggan memberi izin pada cinta yang berani melawan hukum alam. Burung berkata, “Datanglah ke atasku, biar kuajari terbang.” Ikan menjawab, “Turunlah ke airku, biar kau tahu makna tenang.” Mereka saling menunggu dalam kesombongan masing-masing, dengan cinta yang lebih pandai meminta daripada memahami, dengan rindu yang lebih ingin berkuasa daripada berpelukan. Angin menertawakan, ombak berbisik getir: “Lihatlah, dua makhluk yang mengaku saling mencinta, sedang sibuk membuktikan siapa yang lebih hebat.” Mereka lupa, bahwa cinta bukan perintah, melainkan pengertian; bukan siapa yang tunduk, melainkan siapa yang rela menanggalkan sayap dan insang demi sejenak bernafas bersama. Burung menatap bayang air yang memantulkan wajahnya sendiri, “Apakah mencintai berarti kehilangan langit?” Ikan menatap bias cahaya di atas permukaan, “Apakah men...

Kakiku Luka-luka oleh Lika-liku (sebuah renungan tentang kedewasaan yang tumbuh dari kerasnya perjalanan hidup)

Kakiku luka-luka oleh lika-liku, setiap jejaknya menembus luka yang tajam. Batu bersembunyi di bawah niat, dan waktu Bersijingkat melangkah. Tanah meneguk darah kecilku, seolah berbisik: “Jejak yang bijak bukan hanya mampu mencapai ujung, tapi tetap hening di tengah batu yang terus menanyakan alasan.” Tanganku pecah oleh kerasnya keinginan, menggenggam sesuatu yang tak lagi perlu. Angin berbisik di punggungku, “Belajar melepas bukan berarti kalah, tapi berhenti melukai diri sendiri.” Di rimba waktu aku berjalan pelan, akar menahan, ranting menggores. Setiap luka menyimpan tafsir baru tentang makna bertahan. Langkahku patahpecah oleh arah yang resah Disela retakannya, tumbuh keheningan yang tak lagi menuntut jawaban. Di sanalah aku belajar: tidak semua yang tajam berniat melukai, kadang hanya menegur agar aku berhati-hati. Pernah aku terjatuh pada cahaya palsu, menyembah kilau yang ternyata bara. Namun dari hangus itu lahir pengertian, bahwa api pun bisa menjadi guru bila kita tak t...

PENERBANG SUNYI

Luka? Oh iya, karena aku lupa rasanya. Di kepala, punda, dada, perut, tangan, kakiku...dan...ah iya luka itu sudah membatu Ya, sayapku telah rapuh Tidak indah dan semegah dulu Paruhku patah, tidak kokoh lagi, cakarku tumpul, tidak tajam lagi Dadaku koyak, tidak gagah lagi Masa itu telah terlewat jauh Dulu, mengepak bermandikan cahaya Kini, aku ingin menjauhi sinar menyilaukan mata Aku hanya rindu terlelap dalam dada yang telah tamat menunggu sempurna Gemerisik dedaunan diterpa semilir, menyanyikan lagi suara yang tak mungkin lagi aku mendekapnya; "Elang ibu harus terbang jauh ke entah, carilah pelukan yg mampu menyatukan air segara dan api bara, memadukan salju dengan lahar lava. Pelukan ibu, tak lagi kau butuhkan. Namun jangan tertipu, doa ibu akan menuntunmu pada pelukan paling lembut di semesta!" Sejak itu aku terbang sejauh sayapku bisa menuju entah. Pada lelah aku istirah. Aku tak sadar disana ada cahaya bias yang gemerlap. Namun melepas artinya pernah mendekap. Tak mung...

BAGEA (Halaqoh Puisi Bode Riswandi)

Sajak memanggilku, aku berpaling malu Puisi memanggil lagi seraya mengangguk Aku masih ragu namun senyuman, kedua tangan dengan jemari menegaskan Untuk memelukku dengan segenap kehangatan "Segala kekufuranku ku kau maafkan?" Tanyaku "Bagea!" Tegasnya "Aku tak percaya kau futur dari wajah kontemplasi? Diksinya tak hilang dari benak dan bibirmu; di mimbar, panggung, meja diskusi, edukasi dan ruang transaksi yang katamu ketulusan dikebiri Memang pernah terlihat kau kelimpungan; dimana  koordinat kau tinggalkan hati Kau linglung dan terus mencari hingga di negeri-negeri yang kau datangi; semasa kecilmu, itu hanya dongeng dan mimpi Bagea! Tak usah bingung lagi Hari ini akan ku tunjukkan, bahwa kau rindu pada ruhku". Sambung sajak lagi Dengan gemetar ku hisap sebatang sigaret yang disodorkan Bode Riswandi di seberang meja menyeruput nikmat segelas kopi, lalu berucap seakan tahu kecamuk di dadaku; "jalan puisi selalu penuh misteri" Maka di panggung penu...

HALAL HARAM HANTAM

Halal Haram Hantam Iman,. dulu ia bintang penunjuk jalan, naik-turun bagai ombak, kadang redup, kadang menyala. Kini ia jadi lampu diskotik— berkedip hanya ketika musik dunia berdentum, padam kala sunyi menuntut kesetiaan. Dunia ini panggung megah sandiwara, tirai langit terbuka, bumi jadi teater. Manusia berdiri sebagai aktor penuh topeng, lidahnya berdzikir, tangannya sibuk menakar dosa.  Dan naskah paling laris hari ini: halal haram hantam mantra sakti yang membuat semua larangan tampak sah. Riba menjelma malaikat palsu berjubah bunga indah di papan iklan, zina dicat dengan warna cinta neon yang berkilau, arak menetes bagai air surga di gelas kristal hotel berbintang. Yang haram dipuja layaknya mukjizat modern, yang halal diejek sebagai barang kuno. Kuno seperti doa ibu. Oh, betapa agungnya kita menyembah notifikasi! Azan berkumandang, namun kita lebih setia pada dering pesan. Sajadah jadi permadani dekorasi, kitab suci jadi latar estetik di ruang tamu— sementara hati lebih rela...

Turi

Bunga turi tidak pernah menunggu musim pesta. Ia tidak mengemis panggung, seperti manusia yang kerap menuntut sorotan hanya untuk sekadar dianggap ada. Ia mekar di halaman sunyi, tanpa karangan bunga, tanpa orkestra. Dan ajaibnya, ia tetap tumbuh— sementara manusia sering layu sebab sanjungan tidak datang tepat waktu. Orang-orang singgah, memetik kelopaknya untuk sayur menyisipkannya di kenduri seakan-akan hidupnya hanyalah pelengkap nasi. Lalu pergi begitu saja, tanpa pamit, tanpa peduli. Namun bunga itu tidak pernah berkoar: ia tidak menuntut, tidak menuliskan elegi panjang tentang kepedihan, tidak pula meratap menagih simpati. Ia berdiri, rapuh tetapi tabah, sementara manusia kerap runtuh sebab disentuh angin gosip yang sepoi-sepoi. Manusia ingin diagungkan layaknya pohon jati, ingin dipuja sebagaimana beringin tua, padahal dirinya masih goyah hanya karena cibiran remeh. Bunga turi paham letak cukupnya. Ia tidak bermimpi menjadi legenda, cukup menjadi penopang sederhana, memberi gun...

Badut dan pisaunya

Hidup ibarat badut. Tertawa lantang dibawah sorot lampu, sementara darah merembes perlahan dibalik senyum yang dipaksakan.. Begitulah dunia bersenda gurau: melukai, lalu menuntut kita menghibur, seakan derita hanyalah atraksi, air mata sekadar cat wajah panggung. Kehidupan, sutradara licik, mengarahkan lakon tanpa bertanya, menghias wajah dengan tawa palsu, hati koyak dalam diam. Pisau dilempar dengan presisi, selalu menancap di dada, penonton bersorak riang sementara luka dijadikan lelucon. Yang melukaiku bersuka cita, resah kupeluk erat seperti batu terikat di punggung— berat, bisu, namun tak terpisah dari langkah. Lucu, sungguh lucu: susah ditambah susah, tak mencari masalah, masalah datang, seperti hadiah busuk yang dipaksa kuterima. Hidup itu memang lucu: Menjual sabar di pasar sepi, tak ada yang peduli, membagi luka bagai brosur murahan, dilempar ke jalan sunyi. Manusia tampak jenaka, mengemis tepuk tangan basi, mengira sandiwara reyot itu panggung surgawi, nyatanya cuma sirkus m...

Benih yang tak pantas tumbuh di ladangmu

Kau adalah ladang yang setia pada musim: menerima hujan tanpa mencaci, menyimpan kemarau tanpa retak. Segala yang datang kau baca dari arah angin, segala yang pergi kau lepas seperti daun kering. Kesedihan bukan musuh bagimu; ia tumbuh diam sebagai akar— menguatkan tanah saat langit lupa cara setia. Lalu aku datang sebagai benih gugur dari pohon patah— membawa celah masa lampau yang kupendam dalam kepasrahan. Kukira aku akan tumbuh, memberi hijau— tapi kecambahku rapuh sejak biji, dan jamur menyusup ke ladangmu yang tabah. Sejak itu, langitmu langitmu tak lagi biru.  Petir lebih sering singgah, dan hujan tak lagi memeluk— hanya menghantam. Namun kau masih berdiri, menghamparkan tanahmu bagiku, seolah musibah yang datang bukan karena aku, melainkan karena musim lupa caranya lembut. Tapi aku tahu: aku datang bersama musim buruk, dan ladangmu mulai lelah menjadi tanah bagi benih yang tak tahu cara hidup. Maaf— aku datang tak utuh, dan berharap ladang melengkapiku. Jika kau ingin menca...

Pohon kelapa

Tegak di ujung pasir, dipuji karena berdiri, dikutuk karena sunyi. Laut berteriak seperti anak manja, angin datang—menampar, pergi—seolah bijak, menyisakan luka yang disebut “keteguhan.” Kulit keras dianggap tak retak, padahal di balik sabut kasar mengalir getah letih, ingin rebah, tanpa perlu meminta izin bumi. Tak pernah melangkah, namun letih seperti menempuh padang panjang. Tak pernah mengangkat batu, namun berat menahan gugur daun— setiap helaian gugur adalah cacat luka yang tak pernah dicatat doa. Awan boleh bebas melarung air mata, lalu dipanggil indah: hujan. Sedang kelapa— ditunggu hanya saat haus, ditinggalkan hanya tempurung kosong. Tak seorang pun bertanya, “Apakah batangmu baik-baik saja saat angin malam meremasmu seperti penghakiman tanpa sidang?” Kesepian berbisik lirih, tak cukup keras untuk disebut derita, tak cukup penting untuk diingat siapa pun. Berdiri. Diam. Mendengar, tapi tak didengar. Menanti, tapi tak ditanya. Dan sialnya, tetap disebut “kuat.” Dunia mencintai...

Gelanggang gensi

Gemawan belum pecah, namun langit sudah menampung sabda yang tak sempat diturunkan. Pendhapa Agung menahan napas, saat dua kehendak duduk di singgasana kehormatan yang saling meninggi. --- Satu datang dari tanah tinggi Parahyangan, membawa putri bak ratna manikam, dihantarkan bukan sebagai persembahan, melainkan sebagai kawin akal dan rasa, antara dua kadatuan yang hendak bersetia. --- Namun Surya Majapahit tak menyambut dengan kidung, melainkan dengan gelap di antara aling-aling, di mana sabda disimpan dan prasangka dibiarkan menjelma pusaka. --- Yang semestinya menjadi pisowanan agung, berubah menjadi ajang pengukuhan takhta. Yang semestinya menjadi pelabuhan cinta, berubah menjadi gelanggang gengsi. --- Keris pun mencium tanah sebelum hati sempat bicara. Dan suara gamelan tak lagi menari di udara, melainkan bergema sebagai duka di sela gapura yang menahan arwah. --- Wahai yang mendengar, ketahuilah: tak semua kemenangan harum baunya. Kadang yang kau menangkan hanya kehormatan semu y...

Patung Di Tepi Sungai

Di tepi Eufrat —— airnya berkilau seperti kitab yang belum selesai ditulis, Mesopotamia menyalakan api pertama di altar tanah liat, lalu menggenggam patung kecil dari batu lunak: perempuan berperut bulat, payudara meledak seperti musim panen, pahanya akar bumi yang menghisap rahim semesta. Mereka menunduk, menyembah pada kesuburan, pada tubuh. yang tak hanya tubuh. --- Tetapi sejarah selalu membenturkan ketuhanan dengan kekuasaan. Di satu sisi: suara ibu-ibu yang memintal benih, di sisi lain: raja yang menuntut tentara,benteng,pajak. Patung itu berdiri di antara dua dunia: suara rahim dan suara pedang. --- Kini, aku membaca tubuhmu seperti prasasti patah: setengah doa, setengah kutukan. Engkau,patung kesuburan yang dipajang dalam museum sunyi: dilihat dengan tatapan turis, diabadikan kamera, tetapi tak lagi disembah. --- Namun aku masih percaya, setiap retakan di pahatanmu adalah peta perjalanan manusia: dari sawah yang basah, ke istana yang tamak, dari pelukan ibu, ke pekik peperangan...

Rahim Kering Di Antara Dua Sungai

Di antara dua sungai —Efrat dan Tigris- lahirlah peradaban, di mana lumpur dan air bersekutu melahirkan gandum, kota-kota berdiri seperti doa yang terkabul, dan manusia menyebut tanah itu subur. Diantaranya. terdapat gubuk doa dan istana raja, ada patung-patung kecil dari tanah liat, perempuan gemuk, dada menonjol, pinggul lebar- figur kesuburan dihadirkan,disentuh,dimohonkan, agar bumi tetap beranak, agar rahim tetap berdoa. Lihatlah, orang-orang Mesopotamia menari di sekeliling simbol itu, dengan harap: panen tak gagal, anak-anak lahir, nama keluarga tidak punah. Tetapi- di dalam sejarah yang sama, seorang perempuan tua, namanya Sara, tanah kering adalah rahimnya gersang,serupa padang di mana angin hanya membawa debu. Bayangkan, peradaban diapit sungai, namun ia sendiri terkurung di padang rahim yang kering: Mesopotamia menumpahkan sungai, Sara menampung kesunyian. Dunia berbuah gandum, ia berbuah kecewa. Orang-orang menyalakan dupa untuk patung kesuburan, doa terderai tanpa jawaban....

PUISI BUKAN KODE

Nulis puisi dikira sindiran, padahal nyindir kamu tuh effort. Sementara aku aja males nyindir nyamuk di kamar. Nulis puisi dikira kode rahasia, kayak aku agen intel cinta gitu. Eh plis, kode WiFi rumah aja sering aku salah masukin, masa iya aku niat kasih kode hati ke kamu? Baper tiap baca atau dengar puisiku? Waduh… berarti kamu lagi ngerasa penting sendiri, kayak mic di karaoke yang suaranya fals, tapi tetep pede bilang “ini laguku banget.” Dan yang lucu, yang pernah salah sama aku merasa paling diserang, padahal puisiku lagi ngomongin kucing tetangga, bukan dosa-dosamu yang segede gorengan pinggir jalan. Yang suka sama aku malah nganggep ini kode cinta, padahal kalau aku suka balik, udah dari dulu nge-chat:  “Udah makan belom?” Haha Nggak perlu pake metafora berlapis kayak kulit bawang. Jadi tolonglah ya, jangan GR kalau baca atau dengar puisiku. Kalau pun nyindir, percaya deh, kamu nggak spesial buat dijadikan inspirasi. Kalau aku beneran nyindir kamu, aku nggak bakal pake puis...

Kudeta perasaan

Pernah berdiri kerajaan rahasia. tahta perasaan bertengger pada singgasana sunyi. Mahkota rindu bercahaya seperti permata purba, namun satu demi satu, runtuh oleh kudeta yang tak pernah terlihat mata. Suatu takhta digugurkan restu, diremukkan titah tua yang tak terbantah, perasaan ditawan di ruang takdir, ditutup mulutnya, dikunci pintunya, tak lagi berdaulat atas dirinya sendiri. Mahligai lain ditumbangkan agama, dengan palu suci yang membelah asmara, menyalibkan rasa yang memberontak, mengganti pelukan dengan hukum abadi, mengganti desir hati dengan naskah suci. Sebuah istana dirampas teman, senyuman berubah jadi pisau perjamuan, janji-janji di meja persaudaraan menjadi racun yang mengikis dasar perasaan, hingga dinding hati retak tanpa suara. Banyak kerajaan kecil di dada manusia telah direbut, dilucuti, digulingkan, satu oleh restu, satu oleh dogma, satu oleh pengkhianatan, satu oleh dunia, hingga tinggal reruntuhan sunyi yang berserakan bagai prasasti patah. Namun dari kudeta yang...

Pelukan dari dalam

Wahai jiwa yang kerap tergores, jangan engkau merasa sendirian di persimpangan sunyi. Ada dirimu sendiri yang selalu setia, menjadi saksi luka, menjadi sandar bagi resah. Aku tahu, engkau telah menelan pahit yang begitu banyak. menghadapi gelap tanpa pelita, namun tetaplah percaya: di balik rapuhmu, tumbuh sekepal harapan yang tak pernah padam. Rangkul dirimu—seperti seorang ibu memeluk anaknya, seperti tanah menerima hujan tanpa bertanya mengapa. Kuatlah, bukan untuk dunia yang acap lalai, lakukanlah untuk dirimu yang tak boleh kau khianati. Ingat, hati yang teguh adalah benteng sunyi, dan batin yang tabah adalah perisai abadi. Biarkan dunia melempar batu tanpa henti, kau harus tetap berdiri, meski bergetar dan sendiri. Aku bisikkan berulang kali: sehatlah tubuhku, sabarlah jiwaku, kukuhlah hatiku— sebab aku layak bertahan, aku pantas merasa tenang. Dan ketika esok mengetuk dengan wajah baru, sambutlah dengan senyum yang lahir dari dalam. Karena mencintai diri sendiri adalah keberania...