DIA ADALAH; SANG SINGA (Untuk pemilik tebas pedang di tegas sabdanya)
William, boleh ya kali ini saja
Aku tidak sependapat atas fatwa;
_Apalah arti sebuah nama_
Aku ingin bercerita pada dunia
Tentang seorang teman, sahabat, saudara
guru sekaligus lawan bicara
Dia adalah; Sang Singa
Kami baru sekali bertemu
"Namun kau serasa tak asing bagiku."
Katanya, dan ku aminkan itu
Kali lain dia mengirim sebuah sajak;
Kekasih yang terbakar
Istana kontemplasinya terbakar
Aku saksi dia bangkitkan diksi-diksi menggelepar
Walau siksa trauma itu masih berkobar
"Aku mulai dengan puisi cinta dulu ya?!"
Ucapnya
"Ajib, semua puisi adalah cinta. Dan puisi cinta
adalah cinta di atas cinta. Anjayyyy!"
Jawabku sekenanya
Tidak, William, jangan salah faham
Dia bukan kucing rumahan
Meski dia menulis tentang semilir angin, duka
dan binar mata Shinta
Dia adalah; Sang Singa
Aku banyak bertemu dengan manusia pongah
Bahkan berucap hadist simpatiknya terkikis
Bicara ayat, empatinya tersayat
Tapi dia lain, William, ya
Dia ilmiah dan apa adanya
Dia hanya sombong pada yang sombong adalah sedekah
Dia adalah; Sang Singa
Perjalanan, mencabuti bulu-bulu dungu di kepalanya
Cakarnya di asah derita dan luka
Taringnya dilancipkan luka dan nestapa
namun jangan harap keluh akan terbit di bibirnya
Harapan, semangat, cerita yang dapat dipetik hikmah
berpendar dari kisah-kisahnya
"Ayo memanusiakan manusia!" Ajaknya
Dan dia bukan hanya berkata
Dia buktikan dengan realita, ya
Dia adalah; Sang Singa
Dia sepertimu, belum bersujud, William
Namun rukuknya _hablum minan nas_
Dia jawab perintah; "Qul 'a'udzu birab bin nas"
Dia jahat, menghakimi, tak memikirkan perasaan orang?
Tidak! Dia hanya tak tolelir si cacat logika
yang tak introspeksi, miskin adab dan benci nasihat
Dia adalah; Sang Singa
Dia adalah peracik rasa dan logika, logika dan rasa
Dia baca buku apa saja; politik, pilsafat, hukum
Buku berjalan berjudul; Rocky Gerung
Buku kehidupan tanpa tulisan, lalu dijewantahkan
William, dia Haidir bernarasi pedang beruncing dua
Dia adalah; Sang Singa
William, ku bocorkan satu kelemahannya
pada wanita bagai angin semilir
serupa dirimu William Shakespire
Dia mawar lembut dikecup embun
Dan embun hanyalah milik ibu di subuh terbangun
Matanya berkaca saat mengingat dan menyebut; "Ibu"
Dan di depan ibu, dia bukan lagi singa
Dia bukan hamzah, dia alif tak besuara
Ibu adalah domah dan fathah di atas kepalanya
Dan dunia menjadi kasrah di tunduk takzimnya
______________
Karya: My Kembara
Malang, 4 Oktober 2025
Komentar
Posting Komentar