DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)
Dia datang tanpa suara,
duduk di sudut ruang seperti tanda kurung yang tak ingin dibaca.
Bibirnya terkunci,
namun pikirannya melangkah jauh ke dalam hitungan waktu
yang hanya bisa diukur oleh yang mengerti diam.
Dia tidak berbicara pada sembarang telinga,
hanya kepada mereka yang mampu menampung sunyi
tanpa menjadikannya debat.
Ketika akhirnya ia bicara,
suaranya seperti palu di meja pengadilan.
tegas, lantang, namun tak pernah berlebihan.
Setiap katanya adalah hasil dari ribuan pengurangan—
ia kurangi emosi,
ia kurangi ego,
hingga yang tersisa hanya bilangan paling jernih: kebenaran.
---
> “Segalanya harus kembali ke nol,” ujarnya.
“Sebab di sana tak ada luka, tak ada aku, tak ada mereka—
hanya keseimbangan yang suci.”
Aku terdiam.
Kupikir nol adalah kehampaan,
namun di matanya, nol adalah kiblat segala arah.
Tempat seluruh garis kembali bersujud,
tempat semua kurva melengkung dalam rindu menuju pusat.
---
Ia hidup dengan sistem nilai yang ia ciptakan sendiri:
kesabaran baginya adalah konstanta,
iman adalah fungsi tak berhingga,
dan cinta—variabel liar yang menolak dipecahkan.
Dia menghitung hidup seperti matematikawan yang berzikir.
Setiap kesalahan bukan dosa, tapi koreksi,
setiap kehilangan bukan minus, tapi tanda belajar.
Ia ajarkan padaku bagaimana menghapus tanpa merasa berkurang,
bagaimana menambah tanpa merasa lebih,
dan bagaimana membagi diri tanpa kehilangan makna.
Aku pernah melihatnya kalah—
ketika cinta datang sebagai anomali dalam persamaannya.
Matanya, yang biasanya tegak seperti garis x,
mendadak membentuk parabola kesedihan.
Detaknya menjadi bilangan tak rasional—
tak bisa dijelaskan oleh logika manapun.
Cinta membuatnya rapuh,
seperti rumus yang kehilangan simbolnya.
Tapi keindahan dirinya adalah:
ia tidak melarikan diri menuju kebodohan,
ia menulis ulang dirinya dengan jujur,
membagi luka ke dalam deret tak hingga,
hingga setiap derita menjadi nilai yang semakin kecil—
mendekati nol,
tanpa pernah benar-benar hilang.
---
> “Begitulah cara Tuhan mencintai,” katanya.
“Tak terhingga, tapi selalu membuatmu ingin kembali ke pusat.”
Lalu ia menunduk,
menyapu bekas-bekas hitung dari papan pikirnya,
menghapus nama yang pernah ia cintai,
bukan karena benci,
melainkan karena ia paham:
yang sejati akan kembali dalam bentuk yang paling murni—
tanpa variabel, tanpa eksponen, hanya Nol dan Cahaya.
---
Ia tidak tergoda jalan pintas,
tidak mau menukar kejujuran dengan hasil.
Baginya, dosa terbesar adalah manipulasi logika—
menambah sesuatu yang tak ada,
mengurang sesuatu yang belum tentu salah.
Ia hidup dengan perhitungan sederhana:
tidur adalah rehat akal,
zikir adalah penjumlahan jiwa,
dan syukur adalah akar kuadrat dari iman.
---
Aku belajar banyak darinya:
bahwa hidup bukan soal menemukan hasil,
melainkan memahami proses penyederhanaan.
Bahwa Tuhan tidak berbicara dengan bahasa manusia,
melainkan dengan formula alam:
garis waktu, sudut nasib, dan lingkar takdir
yang semuanya berawal dan berakhir di titik yang sama.
---
Kini setiap kali aku berdoa,
aku mengingat sosoknya—
yang berdiri di antara akal dan rasa,
di antara bilangan dan doa.
Dia yang mengajariku membungkus ego dengan tanda kurung,
mengurung amarah dalam tanda mutlak,
dan menulis namaku sendiri dalam tanda pecahan
agar aku tak merasa utuh tanpa-Nya.
---
Dia adalah Sang Nol—
rahasia dalam kesetaraan,
keseimbangan dalam kehilangan,
keabadian dalam penghapusan.
Jika dunia adalah persamaan,
maka dia adalah tanda sama (=) yang menegakkan kebenaran di tengahnya.
Dan aku, hanyalah angka kecil yang belajar
bagaimana menjadi tak bernilai di hadapan Yang Tak Terhingga.
__________
Karya: Sarah Bneiismael
Terinspirasi dari puisi: DIA ADALAH; SANG SINGA (Untuk pemilik tebas pedang di tegas sabdanya), Karya: My Kembara
Komentar
Posting Komentar