Kekuatan dalam kerinduan
Menerima sesuatu
Ternyata tak sesulit menenangkan kerinduan.
Ketika kita sadar bahwa apa yang lama kita inginkan memang layak kita miliki, rindu tidak serta-merta luruh.
Ia tetap berjalan di sisi kita—seperti bayang senja yang mengikuti langkah, lahir dari kebiasaan lama: menunggu, merasa kurang, mencari pantulan dari luar diri.
Perlahan kita mengerti: rindu bukan rantai ketergantungan. Ia lebih seperti angin yang melintas, mengingatkan bahwa menerima juga butuh ruang.
Ia bukan tanda kita belum utuh, hanya jejak lirih yang muncul saat diri masih menata akar untuk tumbuh.
Dulu kita mengira kepantasan harus ditebus dengan perjalanan terjal—seolah kebahagiaan baru tumbuh setelah menyeberangi luka dan lelah.
Namun waktu, seperti sungai yang sabar mengikis batu, menunjukkan sesuatu yang lebih jernih: nilai diri tidak lahir dari kerasnya arus yang kita hadapi.
Nilai itu sudah ada sejak mula; hanya perlu dikenali, bukan dibuktikan.
Dengan kesadaran itu, kebutuhan untuk membuktikan diri melebur. Pandangan orang lain tak lagi menjadi petunjuk. Kepantasan bukan tujuan.
Rindu pun berubah sikap; ia tak lagi menjadi tali yang menarik kita ke luar. Kehadiran orang lain tidak menentukan bentuk utuh kita, sebab keseimbangan tumbuh dari dalam—seperti pohon yang berdiri tegak karena akarnya sendiri.
Perpisahan tak lagi menggoyahkan; kita telah menemukan tanah tempat diri berpijak.
Hidup menjadi lebih ringan ketika kita berhenti mencari emas di luar, dan menyadari bahwa kilau itu sebenarnya berasal dari dalam diri.
Harapan tetap berdenyut, cinta tetap bertunas, namun keduanya bergerak sejajar dengan pemahaman sederhana:
Kita sudah cukup.
Tak perlu memburu penerimaan atau kebahagiaan—keduanya telah lama berdiam dalam diri, seperti percik hangat yang menunggu untuk dikenali.
Ada ketenangan yang lahir ketika kita memahami: kepantasan tak perlu dicari.
Hidup bukan tentang mengejar, melainkan menerima—apa yang hadir, dan apa yang sejak awal telah menjadi milik kita.
______
Karya: Sarah Bneiismael
Bondowoso, 10 Desember 2025
Komentar
Posting Komentar