Retih malam menanggung cinta

Aku tak sedang mencari yang sempurna.
Aku hanya menginginkan kamu—
tetap bertahan ketika senjaku melepaskan sekujur gemerlapnya,
memanggilku dari sela kemungkinan
seperti angin menitipkan rahasia
pada kedalaman sanubariku yang telah lama letih.

Teduhku melata
setiap kali hadirmu menyentuh ambang jiwaku.
Detik-detik rapuh kembali menegakkan wajah,
dan malam, semula pudar
mendekat lirih
seakan hendak menampung gerak rasa yang kita sembunyikan.

Kamu tahu?
Detikku berganti rona
setiap kali kau memilih duduk di sisiku.
Waktu menurunkan degupnya,
langit merapatkan denyarnya,
dan semesta menyingkirkan gemerisiknya
agar kita dapat saling mendengar
tanpa repot mengeja.

Jika itu bukan cinta,
aku kehilangan sebutan bagi keajaiban
penjahit ulang lukaku
dan membuat harapan kembali mekar
di sela hembusan sepi.

Bersamamu,
jiwaku membuka pintu-pintu yang lama menutup,
membiarkan cahaya merayap masuk
ke sudut-sudut yang pernah kubiarkan beku.
Bagian-bagian kupendam
keluar ragu,
dan kau menyambutnya
seakan retihku telah lama kau pahami.

Kini aku paham:
ada hati yang datang tanpa niat singgah,
ada jejak menetap di serambi jiwaku,
ada bisik bertahan
meski subuh membersihkan sisa malamnya.

Kepadamu, cintaku bersandar.
Barangkali, Aku dipenuhi riak dan kusut,
namun kau meredakan semuanya,
Dan alam ikut menunduk
ketika kau berbisik: aku di sini.

_____
Karya: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)