Selamat tinggal

Selamat tinggal...

Ditengah kehampaan.
Saat itu, aku hanya melangkah tanpa tujuan.
Lalu aku bertemu kamu dan bertegur sapa.

Kamu bilang.
Kamu telah menyukaiku sejak beberapa waktu sebelumnya.
Tapi kamu tidak mengungkapkan dan memilih menjalaninya dengan normal.

Aku yang hampa tentu saja merasa senang, Aku yang tidak percayadiri tentang diriku ternyata bisa memikat orang dalam diam.

Tegur sapa itu berlangsung dari waktu ke waktu dan memunculkan rasanya nyaman. Lalu kemudian aku meyakinkan diriku untuk masuk kedalam hidupmu dan berkata.
"Aku juga menyukaimu..."

Hubungan ini dibangun dengan pondasi nyaman, atas alasan aku suka kamu dan kamu suka aku.

Kita tau pada akhirnya ntah aku ataupun kamu yang terluka.
Kita pasti kehilangan.
Entah kerena aku menikah dengan laki-laki lain.
Atau kamu yang pergi karena dituntut oleh kewajiban sebagai seorang suami dan ayah dari anak-anakmu.

Kita mengabaikan dosa dan kodrat hanya karena terbius nyaman.
Seolah aku dan kamu mampu menahan rasa sakit atas apapun yang mungkin terjadi kemudian.

Dan akhirnya terjadi,..
Aku menahan rindu dan cemburu saat kamu sibuk dengan keluargamu sampai terkadang menangisinya,
Sedangkan kamu berkecamuk dengan rasa bersalah karena tidak memperhatikan aku.

Kita adalah korban dari perasaan yang tepat tapi tidak pada tempatnya.
Aku sempat kuatir apakah kita bisa mengakhiri drama yang kita buat ini, sedangkan rasa rindu untuk bersatu semakin menggebu.

Rupanya benar...
Kamu harus pergi karena keluargamu,...
Dan aku memilih mengakhiri dari pada menunggu.

Bukan karena aku berubah atau tidak lagi mencintaimu...
Justru aku mencintaimu
Sangat mencintaimu
Dan tak ada seorang lelaki sejauh ini yang bisa membuat aku tahan dari rasa cemburu dan memakluminya selain kamu.

Aku hanya sadar,... Bahwa cepat atau lambat hubungan itu usai..
Dan aku ingin kamu fokus dan memprioritaskan tanggungjawabmu..

Bahagialah kamu karena telah kembali bersama keluargamu.
Urusan aku yang patah hati dan gagal bercinta lagi.
Tak jadi soal...
Aku telah berlajar banyak untuk bersabar...
Dan aku pasti melaluinya..

Akhirnya kata aku ingin bersamamu berganti semoga kamu bahagia dan selamat tinggal.


Sarah
3 desember 2021


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)