Trauma dengan cinta

Hai apa kabar, .. 
Sebenarnya aku ingin memastikan
Apakah kamu baik baik saja. 
Ku lihat setelah meninggalkan aku, kamu banyak tertawa. 


Selamat ya, karena meski kamu tak menepati ucapanmu untuk meperjuangkanku. 
Setidaknya kamu menepati janji kepada dirimu sendiri, bahwa kamu akan sehat dan bahagia. 


Cukup lega, setelah berhari hari menangis karena kehilanganmu, akhirnya aku mampu menerima kenyataan bahwa kamu sudah bahagia dengan orang lain. 


Setidaknya, aku tak membebanimu lagi. 
Setidaknya, aku bukan orang yang menjadi alasanmu untuk terluka lagi. 
Pasti begitu lelah denganku. 
Aku selalu mengutuk diriku atas ketidakpantasanku berada disebelahmu. 


Hingga sekarang, aku masih belum melupakan saat saat indah kita, yang bersama hayalan namun bahagia hanya dengan membayangkan segalanya. 


Hingga sekarang, kamu masih menjadi bayangan bayang indahku. Yang menemaniku tidur di duniaku yang sepi. 
Sesungguhnya aku belum bisa merelakan kamu dimiliki oleh orang lain. 


Namun aku menahan diri untuk mengejarmu lagi,... 
Sebab kamu telah bahagia. 
Sebab aku telah dibuang. 
Sebab aku sudah tak berharga lagi. 


Kamu membentak ku berkali kali dan mengataiku seakan akan aku penghianat diantara kita, lalu bersikeras bahwa kamulah korbannya. 


Tapi nyatanya...
Aku yang hingga sekarang masih terluka... 
Kamu malah sudah bahagia bersama orang lain. 


Aku tidak mendengarkan semua orang, ketika mereka berkata bahwa aku terlalu jauh menaruh harapan kepadamu. 

SIALNYA.... MEREKA BENAR. 


Aku menutup telingaku saat orang orang terdekat ku berkata bahwa kamu tidak baik. 


SIALNYA... MEREKA BENAR. 


Aku ingin tau, apakah mataku tidak bohong.
Karena kamu tampak sangat bahagia. 


Aku ingin tau, apakah telingaku tidak sedang memfitnahmu, sebab setelah minta maaf, kamu bersama wanita barumu membicarakan keburukan ku. 


Teganya kamu... 
Yang bukan sekedar pergi mencari peruntungan baru setelah yang kamu lakukan terhadapku. 

Kamu masih saja menyebarkan aibku, dan menghujatku didepan orang orang.


Ingatlah pada saat aku berjuang demi kamu... 
Bahkan aku yang bersimpuh dengan air mata dan memohon kepada Tuhan untuk Riski dan kesembuhanmu. 


Kamu pernah berjanji tak akan meninggalkan aku, yang telah menemani masa sulitmu. 


Bodohnya aku mempercayai itu. 


Sekarang kamu hebat, dan aku bukan lagi inginmu. 


Kamu buang aku bahkan tidak pada tempatnya. 
Disaat yang tidak tepat dan begitu menyakitkan. 


Inikah arti dari sebuah kasih sayang? 
Inikah yang kamu sebut dengan perjuangan? 

Bersamamu saat sulit dan pergi saat kamu berhasil? 


Selamat. 
Uang kamu sudah banyak. 
Pacarmu lebih cantik dariku. 
Jelas, dia pasti sangat percya diri disebelahmu daripada aku yang telah kamu buang. 


Tapi tak apa, kuucapkan selamat untukmu sayang... 
Ntah kapan aku benar benar bisa menerima seseorang lagi dalam hidupku. 


Yang jelas, hingga saat ini aku lelah mengenal cinta. 
Selalu berusaha, lalu bahagia sesaat kemudian meninggalkan luka yang sama dan berlangsung lama. 


Menjadi trauma. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)