Dia datang tanpa suara, duduk di sudut ruang seperti tanda kurung yang tak ingin dibaca. Bibirnya terkunci, namun pikirannya melangkah jauh ke dalam hitungan waktu yang hanya bisa diukur oleh yang mengerti diam. Dia tidak berbicara pada sembarang telinga, hanya kepada mereka yang mampu menampung sunyi tanpa menjadikannya debat. Ketika akhirnya ia bicara, suaranya seperti palu di meja pengadilan. tegas, lantang, namun tak pernah berlebihan. Setiap katanya adalah hasil dari ribuan pengurangan— ia kurangi emosi, ia kurangi ego, hingga yang tersisa hanya bilangan paling jernih: kebenaran. --- > “Segalanya harus kembali ke nol,” ujarnya. “Sebab di sana tak ada luka, tak ada aku, tak ada mereka— hanya keseimbangan yang suci.” Aku terdiam. Kupikir nol adalah kehampaan, namun di matanya, nol adalah kiblat segala arah. Tempat seluruh garis kembali bersujud, tempat semua kurva melengkung dalam rindu menuju pusat. --- Ia hidup dengan sistem nilai yang ia ciptakan sendiri: kesabaran baginya ada...
Komentar
Posting Komentar