Aku yang lelah
Di dadaku, bulan retak dua,
cahayanya samar, redup tak berdaya,
napas tersengal bagai burung patah sayap,
ingin terbang, namun jatuh di tepi gelap.
Aku berjalan di ladang sunyi,
rumputnya tajam, menusuk nadi,
setiap langkah hanyalah gema,
yang kembali memukul dada tanpa suara.
Marahku menjerit dalam bisu,
seperti ombak yang terikat batu,
aku menahannya—hingga tubuhku sendiri,
merintih pelan bagai biola berdebu.
Di pundakku ada langit runtuh,
beban bukan milikku, namun dipaksa kutanggung utuh,
mereka yang seharusnya jadi penopang,
hilang, menanggalkan tanggung jawab di jalan yang bising dan panjang.
Aku menyerahkannya pada Tuhan,
pada langit malam, pada sepi yang tak terhitung,
namun bayanganku sendiri mencemooh,
mengatakan aku tak cukup layak
bahkan untuk mengetuk pintu keabadian.
Aku ingin kuat,
namun tanganku kosong,
aku ingin memberi semangat,
namun bibirku hanya melahirkan kabut kering yang hanyut.
Oh, ayah dan ibuku,
dimana rindu harus kutitip bila engkau tak lagi ada?
Aku mencari wajahmu dalam mimpi,
tapi hanya bayangan pudar yang menjawab sunyi.
Aku ini lilin yang terbakar dalam gelap,
memberi cahaya, padahal nyalanya sendiri sekarat,
aku ini hujan yang jatuh di gurun,
tak menyuburkan apa pun—hanya menghilang dalam kesia-siaan.
Andai aku bisa berhenti sejenak,
menjadi batu di tepi sungai,
tak bergerak, hanya diam,
biar arus dunia lewat tanpa harus kupikul lagi.
Namun aku masih berdiri.
Rapuh, remuk, namun tetap berdiri,
meski senja di mataku kian padam,
aku berharap Tuhan membaca air mataku,
yang kutitipkan pada malam,
saat dunia menutup mata dan telinga.
Komentar
Posting Komentar