Bayangan yang tak pernah kupilih | Puisi

Ada wajah di cermin yang selalu menatapku,
seperti tamu asing yang menetap tanpa izin.
Aku tersenyum padanya,
namun di balik senyum itu, aku tahu:
ada ruang yang retak,
ada napas yang berat,
ada doa yang tak pernah sempat selesai.

Orang-orang berjalan sambil menunjuk bunga,
katanya indah, katanya wangi, katanya layak dipuji.
Lalu aku menunduk pada tanah basah di bawahnya,
bertanya dalam hati:
“Jika aku tumbuh sebagai rumput,
haruskah aku meminta maaf karena bukan bunga?”

Malam datang tanpa ditanya,
membungkus tubuhku dengan dingin.
Aku ingin hangat,
namun tak ada api yang memilih singgah di sini.
Hanya kesunyian yang setia,
menepuk bahuku dengan lembut
sambil berbisik:
“Bertahanlah, meski tidak ada yang melihat.”

Dan aku pun berdiri,
meski rapuh.
Seakan semesta ingin menjadikanku bukti
bahwa tak semua luka bisa diperbaiki,
tapi tetap bisa bernapas,
meski dengan dada yang sesak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)