Biarkan saja

Aku bukan bunga yang dipamerkan di singgasana,
hanya rumput liar di tepian jalan desa.
Jika kau pijak, aku masih tumbuh apa adanya,
jika kau abaikan, aku tetap bernapas di bawah cahaya-Nya.

Engkau datang dengan rayu yang manis,
seperti gula yang larut tanpa sisa, habis.
Aku tersenyum, bukan karena terpesona,
melainkan karena tahu: semua itu hanya sandiwara dunia.

Kalau cinta hanya untuk mereka yang indah rupa,
maka dunia ini tak lebih dari cermin yang penuh dusta.
Apalah arti manis kata yang kau tabur,
jika hatimu sendiri hanyalah ruang yang hampa dan kabur.

Aku tidak marah, tidak pula kecewa,
aku hanya tertawa, sebab permainanmu begitu biasa.
Seindah apa pun gerakmu menggoda,
tetap saja kosong, tak berharga di mata jiwa.

Biarlah—aku tidak butuh tepuk tangan semu,
tidak perlu ikut menari di pesta palsu.
Hatiku bukan pasar yang bisa kau tawar,
rinduku bukan koin yang bisa ditukar.

Jika aku tampak hina, biarkan saja,
bukankah yang mencipta lebih tahu nilainya?
Aku tidak diciptakan untuk jadi pameran,
tapi untuk diuji: sabar, ikhlas, dan kesetiaan.

Maka kututup mataku dari goda yang sia-sia,
kubuka tanganku untuk doa tanpa jeda.
Aku bukan menolak cinta manusia,
aku hanya memilih: biar Allah yang menentukan siapa pantas untukku di dunia maupun di surga.

Oleh: Sarah Bneiismael 
Pesan: Kepasrahan kepada Tuhan adalah jalan terbaik ketika hati terluka—biarkan Allah yang menilai pantas atau tidak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)