Indah yang tak pernah ku miliki l mencintai diam-diam
Aku mencintaimu,
dengan cara yang mungkin tak pernah bisa kau dengar.
Cinta ini berdiam di ruang dada,
bersembunyi di balik senyum,
terjaga dalam tatapan yang pura-pura biasa.
Seperti langit yang menampung rahasia hujan,
aku menampung namamu tanpa pernah menjatuhkannya.
Aku tahu, langkahmu bukan menuju padaku,
tapi aku tetap menanti,
seperti dermaga yang rela menua menunggu kapal yang tak pernah kembali.
Matamu...
ah, matamu adalah sepasang senja yang tak pernah habis kutatap,
membuatku ingin berlama-lama,
meski aku sadar—
aku hanyalah bayangan yang tak kau cari.
Kau tersenyum,
dan senyum itu bagai bulan purnama
yang membuat laut di dadaku pasang,
gelisah namun indah,
sebab aku tahu,
bahkan bulan pun tidak bisa kusentuh,
meski cahayanya jatuh begitu lembut di wajahku.
Aku pernah melihatmu menggenggam tangan orang lain.
Saat itu, dadaku bergemuruh seperti badai,
namun entah mengapa, badai itu cepat reda.
Karena aku sadar,
aku tidak pernah benar-benar ingin memiliki,
aku hanya ingin merasakan keindahanmu,
seperti orang asing yang datang ke pantai,
menikmati laut sebentar,
lalu pulang tanpa menuntut ombak ikut bersamanya.
Kau adalah pemandangan,
seperti air terjun yang tak bisa dibawa pulang,
seperti gunung yang tak bisa kupindahkan,
seperti langit yang tak bisa kusimpan di genggaman.
Dan aku rela,
sebab mungkin memang begitu cara alam mengajariku,
bahwa ada hal-hal indah yang hanya pantas dinikmati,
bukan dimiliki.
Maka aku mencintaimu dalam diam,
dengan doa-doa yang tidak pernah kau dengar,
dengan tatapan yang hanya berani kuberi pada bayanganmu,
dengan kerinduan yang hanya kuceritakan pada malam.
Aku belajar ikhlas dari namamu.
Aku belajar bahwa mencintai,
tak selalu tentang menggenggam.
Kadang, mencintai adalah tentang melepaskan,
tentang merelakan sayap burung tetap di langit,
meski aku ingin sekali menahannya di telapak tangan.
Dan jika kelak kau bahagia,
bahkan tanpa aku,
maka biarlah aku menjadi angin yang menyusup di antara kebahagiaanmu,
tak terlihat, tak terdengar,
tapi ada,
selalu ada.
Karena mencintaimu—
meski tanpa pernah memiliki—
sudah cukup menjadi alasan
untuk membuatku tetap berjalan,
tetap tersenyum,
tetap hidup.
Oleh: SarahBneismael
Komentar
Posting Komentar