Jejak dijalan yang sunyi

Kerap kudapati musim yang enggan menurunkan hujan,
sementara ladang menanti, tanah retak memanggil-manggil.
Awan hanya bergelayut, berat oleh janji,
namun tak juga menjatuhkan setetes pun penawar dahaga.

Aku pun berjalan, memikul kendi kosong,
berharap ada mata air di balik bukit.
Dan benar, di balik sunyi itulah kutemukan,
sebuah aliran kecil, jernih, meski tak dimiliki siapa pun.

Ada saatnya angin tak mau bersuara,
daun pun hanya diam, pura-pura tak tahu.
Namun akar tetap menembus bumi,
meski sendirian menahan gelap dan beban batu.

Maka kusadari,
kadang yang kita tunggu takkan pernah datang.
Kadang cahaya harus kita sulut sendiri,
meski hanya sebatang api kecil yang lahir dari gesekan luka.

Dan ternyata,
berjalan sendirian bukanlah kutukan.
Ia adalah caraku belajar,
bahwa bintang pun sanggup menyinari malam,
meski tak ditemani rembulan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)