Lakon dari luka
Aku berjalan seperti bayangan yang kehilangan tubuhnya,
diterpa cahaya,
namun tak pernah benar-benar terlihat.
Orang menilai dari kelopak,
padahal akarku sudah lama patah.
Mereka menuntut wangi,
sementara aku bahkan sulit bertahan dari layu.
Jika hidup adalah panggung,
maka aku berdiri dengan kostum robek,
dipaksa tersenyum agar lakon tetap berjalan.
Tak ada yang tahu,
di balik tirai, aku menangis kepada diriku sendiri.
Aku ingin menjadi indah,
tapi cermin selalu memantulkan wajah asing
yang bahkan aku pun enggan menyapanya.
Maka kuikat sunyi di dadaku,
kuhembuskan sesak dalam napas yang bergetar,
dan kubiarkan dunia bertepuk tangan
untuk tokoh yang sebenarnya
tak pernah kupilih untuk kuperankan.
Komentar
Posting Komentar