Orkestra yang retak ditengah senandung | Puisi cinta yang berakhir jadi pelajaran

Aku pernah bertemu denganmu,
bukan di jalan berdebu, bukan di taman berbunga,
melainkan di ruang yang tak bertubuh—
tempat suara menggema tanpa wajah,
tempat huruf-huruf menari tanpa tangan.
Di sanalah,
kau hadir bagai gema yang menembus sunyi,
seperti bintang jatuh yang menabrak dadaku
dan menyalakan malam yang sebelumnya padam.

Kita awalnya hanya diam,
dua orang asing yang saling tahu tanpa berani menyapa.
Aku membaca napasmu lewat jeda kata,
aku mendengar senyummu lewat nada yang pecah di mikrofon.
Lalu perlahan,
kau merangkai jembatan dari tatapan virtual,
dan aku menyeberanginya dengan hati yang gemetar.

Hari-hari setelah itu adalah pesta cahaya.
Aku merasa setiap detik bersamamu
adalah perayaan kecil yang ditiupkan Tuhan ke telingaku.
Segalanya indah:
senyummu adalah musim semi yang berulang,
suaramu adalah air hujan yang menenangkan bumi,
dan cintamu—
oh cintamu—
kupikir adalah kitab suci yang tak akan pernah berubah ayatnya.

Aku menyerahkan segalaku padamu,
seolah-olah aku memberikan seluruh kerajaan batinku
kepada seorang raja yang kuyakini tak akan mengkhianati takhta.
Apa yang kumiliki, jadi milikmu;
apa yang kau genggam, kujaga seakan jiwaku sendiri.
Kita menyatu,
atau setidaknya aku kira begitu.

Namun waktu adalah dalang yang licik,
perlahan ia mengoyak panggung kita dengan benang tak kasat mata.
Kau berubah,
bukan tiba-tiba, tapi sedikit demi sedikit,
seperti daun yang menguning diam-diam
hingga akhirnya seluruh pohon menjadi gugur.
Aku melihatmu menoleh ke arah lain,
menyapa mata lain,
menikmati senyum lain,
sementara aku masih berdiri di tempat yang sama—
memegang janji yang kini tinggal abu.

Kau mulai membawa alasan-alasan yang asing,
pura-pura sakit,
pura-pura rapuh,
dan aku, dengan bodohnya,
menjadi tabib yang rela menukar nyawanya demi tubuhmu.
Aku membayar obat yang tak pernah benar-benar kau telan,
aku menanggung rumah sakit yang tak pernah benar-benar kau tinggali,
aku menyeka luka yang tak pernah benar-benar ada.
Dan setiap kali amarahmu datang,
kau sembunyikan di balik kata penyakit.
Aku pun luluh,
karena cinta membuatku tuli pada logika.

Padahal…
teman-temanku sejak awal sudah berbisik:
“Dia tidak baik untukmu.”
Aku menutup telinga,
menyangka mereka hanya iri pada kebahagiaan kita.
Tapi sialnya,
mereka benar.
Aku yang salah membaca naskah cinta,
aku yang salah menaruh kepercayaan
pada peran yang kau mainkan begitu lihai.

Namun pada akhirnya,
akulah yang sakit.
Tubuhku masih berdiri,
tapi hatiku telah hancur berkeping-keping,
seperti kaca jendela yang dilempar batu,
retakannya menyebar ke segala arah,
memantulkan wajahku yang tak lagi utuh.

Yang paling menyayat bukanlah pengkhianatanmu,
melainkan caramu menyulam dusta
dan memamerkannya pada orang-orang
seolah aku adalah parasit yang menghisap darahmu.
Kau lukis aku dengan tinta hitam,
kau bicarakan fisikku,
kau hina rupaku,
seakan-akan dua tahun kita bersama hanyalah sandiwara murahan
yang tak layak ditonton siapapun.

Aku marah.
Aku hancur.
Aku runtuh di dalam diam.
Namun akhirnya aku sadar:
cinta yang terlalu berat sebelah
akan selalu membuat salah satu jatuh tanpa pegangan.

Maka aku memilih untuk pergi.
Bukan karena aku berhenti mencintaimu,
tapi karena cinta yang terus meneteskan racun
tidak lagi pantas untuk diminum.
Aku pergi dengan tubuh penuh luka,
dengan tangan kosong,
dengan teman-teman yang telah kau renggut dariku.
Namun aku tetap melangkah,
karena di balik kehancuran,
ada Tuhan yang tak pernah meninggalkan,
ada langit yang masih memberiku cahaya,
ada bumi yang tetap menumbuhkan bunga meski musim berganti.

Aku belajar,
bahwa kadang kehilangan adalah penyelamatan.
Bahwa melepaskanmu, meski perih,
adalah jalan pulang bagi jiwaku sendiri.

Kini, jika aku menoleh ke belakang,
aku melihat kita sebagai orkestra yang indah,
namun berhenti di tengah lagu,
dihantam badai,
dan meninggalkan denting piano yang retak di udara.
Tapi dari retakan itu,
aku menemukan melodi lain—
melodi kesendirian yang sunyi,
tapi jujur.

Dan mungkin itulah cinta yang sebenarnya:
bukan tentang bertahan dalam racun,
melainkan berani pergi dari meja jamuan
ketika anggur telah berubah menjadi darah.

Oleh: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)