Pagi yang menyala dalam sepi | Puisi ini tentang perjalanan batin seseorang yang merasa sendiri, tidak dipedulikan, dan sering disalahkan, tetapi tetap memilih bertahan dan yakin hidup punya makna.

Pagi kembali datang,
membawa embun yang menggigil di ujung daun,
matahari meneteskan madu ke pelupuk mataku,
dan aku terbangun dalam dunia yang sama,
dunia yang tak pernah berubah,
dunia yang sepi namun tetap berdetak.

Aku melangkah ke kebunku,
tempat sunyi menanam doa,
tempat tanah menyimpan rahasia,
tempat aku mengadu tanpa suara.
Tidak ada kesibukan, tidak ada riuh manusia—
hanya bisikan angin,
dan degup kecil dalam dadaku yang berkata:
"Bertahanlah, meski kau sendiri."

Orang-orang, oh orang-orang…
mereka sibuk memahat wajahnya di cermin,
sibuk menata singgasana egonya,
sibuk menutup telinga atas tangis yang bukan miliknya.
Kesalahanku yang hanya setitik,
mereka besarkan menjadi samudra,
sementara seribu kebaikan yang kupersembahkan
lenyap begitu saja,
seperti api lilin yang padam di tengah badai.

Namun aku tetap berjalan.
Aku tahu, berharap pada manusia
hanya akan melahirkan patah hati yang disengaja.
Meminta hangat dari es,
meminta cahaya dari kegelapan.
Sia-sia…
tetapi aku belajar,
tidak semua kehilangan adalah kehancuran,
tidak semua sepi adalah kematian.

Biarlah aku berbicara pada langit,
pada bunga yang mekar meski tak dilihat,
pada tanah yang rela menanggung benih tanpa mengeluh.
Aku bicara pada angin,
dan angin menjawab dengan pelukan tak kasat mata.
Aku bicara pada matahari,
dan sinarnya menulis pesan di kulitku:
"Hiduplah, meski tak seorang pun peduli."

Aku percaya—
hidup ini pasti menyimpan makna,
meski belum terbaca,
meski jalannya penuh kabut.
Dan aku akan terus melangkah,
menggendong luka seperti prajurit membawa bendera terakhirnya.
Biar darahku menjadi tinta,
biar air mataku menjadi hujan,
biar langkahku yang goyah
menjadi saksi bahwa aku pernah berjuang.

Karena sepi pun bisa melahirkan kekuatan,
dan hampa pun bisa menciptakan kehidupan.
Hari ini, esok, dan seterusnya—
aku akan tetap berdiri,
seperti pohon yang menolak tumbang,
meski badai merobek akarnya.

Dan pada akhirnya,
pagi akan tahu,
bahwa aku bukan sekadar bayangan,
aku adalah nyala yang tak padam oleh kesendirian.

By: Sarah Bneiismael

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)