Ranting yang retak
Aku adalah ranting di bawah tajukmu,
menadah hujan, menahan badai,
sementara kau berdiri tinggi,
memetik cahaya tanpa menoleh lagi.
Kadang aku ingin patah,
melepaskan diri dari batang yang kaku,
namun akar menahan—
“kau tetap satu tubuh, satu nyawa.”
Burung-burung hinggap di dahammu,
mereka bernyanyi untukmu,
sedang aku hanya mendengar gema,
suara yang tak pernah singgah pada telingaku.
Ada bara yang menyala di dadaku,
seperti gunung yang menahan letusan,
namun kututup dengan tanah basah,
agar api tak melalap hutan persaudaraan.
Maka biarlah aku jadi diam,
meski retak tak lagi bisa tersembunyi.
Sebab meski engkau menusuk dengan bayangan,
aku tetap menjelma naungan.
Komentar
Posting Komentar