Satu perahu dilautan riuh
Aku menggantungkan malam pada jendela,
mencari cahaya yang tak pernah benar-benar singgah.
Jam berdetak seperti hujan,
mengikis sabar hingga tinggal gema.
Kau sibuk bercakap dengan dunia,
sementara aku berbicara pada hening
yang hanya tahu mengulang namamu.
Aku tidak menuntut apa-apa,
selain sebuah lirih pengakuan
bahwa hatiku pernah kau dengar.
Kadang aku marah,
bukan karena ingin menang,
tapi karena ingin kau peluk kata maaf
meski tak ada salah yang kau rasa.
Bukan untuk membenarkan aku,
melainkan untuk membuatku percaya
bahwa aku tidak sendiri menunggu.
Kau ramai, aku sunyi.
Kau punya lautan, aku hanya satu perahu.
Dan di antara riuhmu,
aku tetap menambatkan jangkar
pada nama yang sama: kamu.
Ditulis oleh: Sarahbneism/Y
Komentar
Posting Komentar