Taman dari tubuh yang retak :bertahan hidup
Aku adalah kota mati,
Lampu-lampu redup, jalan-jalan tanpa penghuni.
Jam terus berdetak—tapi aku tidak bergerak,
Hanya daging yang bernafas, tanpa jiwa yang pulang.
Hari-hariku hanyalah parade bayangan.
Senyum orang lain lewat di mataku,
Tapi tak satu pun berhenti mengetuk pintu.
Aku hanyalah kerangka yang berbaring di ranjang,
Membelai layar ponsel,
Seperti mengusap batu nisan yang dingin.
Namun… dari retak tubuhku,
Kudengar bisikan tanah memanggil namaku.
Bumi berkata:
“Jika kau tak punya siapa-siapa,
Tancapkan aku di dadamu,
Biarlah aku jadi sahabatmu yang terakhir.”
Maka, kugali luka-lukaku.
Kutanam benih di dalamnya.
Akar-akar kecil menjulur di nadi,
Daun-daun hijau tumbuh dari hatiku yang pecah.
Aku jadi taman,
Bukan karena bahagia.
Tapi karena aku tak ingin mati tanpa makna.
Seribu kali bibitku gugur,
Seolah langit menertawakan ketabahanku.
Seribu kali hujan menenggelamkan harapanku,
Dan matahari membakarnya menjadi abu.
Tapi aku tetap menanam…
Karena menyerah hanya akan menguburku lebih dalam
Di liang gelap yang bernama sepi.
Aku menanam bukan untuk kenyang,
Bukan untuk emas atau kemewahan semu.
Aku menanam agar bumi tahu:
Masih ada jiwa yang setia berjuang,
Meski ia berdarah, meski ia rapuh,
Meski ia hanyalah hantu yang terikat pada tubuh.
Dan kelak… jika pohon itu tumbuh,
Biarlah rantingnya menjulur ke langit,
Menyulam bintang menjadi atap mimpiku.
Biarlah buahnya jadi matahari,
Yang menyalakan pagi di mataku yang redup.
Tapi bila semua gagal lagi,
Jika benih terakhirku pun tak mampu hidup,
Biarlah aku rebah di pangkuan tanah,
Menjadi pupuk bagi kehidupan lain.
Agar suatu hari… seseorang menemukan bunga liar.
Dan berkata:
“Di balik bunga ini…
Pernah ada jiwa yang memilih berjuang—
daripada menyerah.”
Komentar
Posting Komentar