TENTANG KITA YANG SALING MENGHANCURKAN: Prosa Liris.
POLOG PEMBUKA:
Ada kisah yang lahir dari pertemuan dua hati yang pernah begitu yakin pada satu janji.
Mereka tertawa dalam mimpi yang sama, berpegangan tangan seolah dunia tidak sanggup meruntuhkan mereka.
Namun, seperti langit yang tak selamanya biru, cinta itu perlahan berubah menjadi hujan yang deras.
Di antara kehangatan dan luka,
terdapat percakapan yang tak pernah selesai,
tentang kesetiaan yang dipertanyakan,
tentang kerinduan yang tak pernah benar-benar terjawab.
Mereka saling mencintai, tapi juga saling melukai.
Mereka saling membutuhkan, namun justru saling menuduh.
Beginilah cinta—
kadang hadir bukan untuk dimiliki selamanya,
melainkan untuk mengajarkan arti kehilangan,
agar jiwa memahami bahwa mencintai tak selalu berarti selalu harus memiliki.
Dan di titik inilah cerita mereka dimulai:
di ambang perpisahan,
ketika cinta harus diuji antara bertahan dengan luka,
atau melepaskan dengan sisa harga diri.
---
DIALOG
👩: "Aku sudah menyerahkan seluruh hatiku padamu.
Kesetiaan, pengorbanan, bahkan separuh jiwaku yang tersisa pun kurelakan.
Tapi kau… ah, kau malah sibuk menceritakan luka-luka yang kau buat sendiri,
seakan-akan aku dalang dari semua neraka yang kau rasakan.
Bukankah itu ironi? Aku yang menampung airmatamu,
justru kau lukis di mata orang lain sebagai penyebabnya."
👨: "Kau pikir aku tak terluka?
Aku berdiri di bawah hujan badai, mencoba melindungi kita,
sementara kau sibuk menagih kehangatan yang tak bisa kuberikan setiap waktu.
Aku hanya manusia—penuh cacat, penuh letih,
dan kadang aku butuh telinga lain untuk mendengar jeritanku,
karena padamu, aku terlalu takut terlihat lemah."
👩: "Lemah? Kau menyebut itu kelemahan?
Sedang aku, yang menunggu berbulan-bulan dalam diam,
yang menutup mata dari setiap prasangka,
yang menahan cemburu hingga nyaris membunuh diriku sendiri…
Apakah itu bukan kelemahan juga?
Aku bukan benteng yang tak bisa runtuh.
Aku perempuan, dengan hati yang mudah retak.
Namun aku tetap tinggal, meski serpihan itu menancap di dadaku."
👨: "Lalu salahku di mana jika aku ingin didengar?
Jika aku ingin suaraku dianggap ada?
Kau menuntut kesetiaan, kau menuntut kejujuran,
tapi setiap kali aku berbicara, kau hanya mendengar dengan telinga,
bukan dengan hati.
Aku bercerita bukan untuk menjatuhkanmu,
melainkan karena aku takut tenggelam dalam sunyi yang kita bangun sendiri."
👩: "Tidak.
Kau bercerita agar dunia percaya bahwa akulah biang dari sengsaramu.
Kau ingin simpati, kau ingin dikasihani,
sementara aku digantung sebagai sosok yang terlalu mengekangmu.
Padahal, yang kulakukan hanyalah mencintaimu terlalu dalam.
Ya, mungkin itu salahku—
karena mencintaimu dengan cara yang tak sanggup kau mengerti."
👨: "Dan salahkah aku…
jika aku merasa tercekik oleh cintamu yang begitu membelenggu?
Aku berjalan, tapi langkahku terasa berat karena kau terus menggenggam tanganku terlalu erat.
Aku bernapas, tapi udara yang masuk selalu kau ukur kadarnya.
Apakah itu cinta, atau penjara dengan nama manis?"
👩: "Kau menyebutnya penjara…
padahal aku menyebutnya rumah.
Rumah yang kubangun dari serpihan kepercayaan,
dari sabar yang kupintal setiap malam.
Jika kau merasa terkurung,
mungkin karena kau tak pernah ingin benar-benar tinggal."
(hening sesaat, seakan waktu ikut berhenti, lalu suara perempuan kembali terdengar, lebih lembut, lebih bijaksana)
👩: *"Sudahlah… kita berhenti saling menghitung luka.
Kau benar dengan caramu, aku benar dengan caraku,
tapi tak ada yang sungguh menang dalam perang ini.
Cinta kita telah berubah menjadi medan pertempuran,
dan aku lelah menjadi prajurit yang selalu berdarah.
Jadi biarlah aku menjadi orang pertama yang meletakkan senjata.
Aku tak ingin lagi kau merasa dikekang.
Aku tak ingin lagi aku merasa dilukai.
Aku melepaskanmu bukan karena aku tak mencintaimu,
tapi justru karena aku terlalu mencintaimu.
Dan cinta yang terlalu dalam, jika dipaksa bertahan,
akan berubah jadi racun yang perlahan membunuh kita berdua.
Pergilah dengan damai…
dan jika suatu saat kau mengingatku,
ingatlah bahwa aku pernah menjadi rumah—
meski kini rumah itu harus kau tinggalkan.
Aku memilih ikhlas, karena aku percaya:
kehilangan bukan akhir,
melainkan jalan lain menuju kebebasan hati."*
PROLOG PENUTUP:
Pada akhirnya, percakapan itu bukan sekadar tentang dua hati yang retak,
melainkan tentang keberanian untuk mengakui bahwa cinta tak selalu bisa diselamatkan.
Mereka berdebat, mereka menangis, mereka saling menyalahkan—
namun di balik semua itu, keduanya sedang mencari jalan keluar dari jerat yang mereka buat sendiri.
Perempuan itu belajar, bahwa mencintai tidak berarti menggenggam terlalu erat.
Dan lelaki itu pun mengerti, bahwa didengar tidak berarti harus meninggalkan luka pada orang yang paling setia.
Mereka sama-sama salah, mereka sama-sama benar.
Begitulah cinta: tak pernah sederhana, tak pernah bisa ditimbang dengan ukuran yang mutlak.
Kini mereka berdiri di persimpangan.
Bukan lagi tentang siapa yang harus bertahan,
melainkan siapa yang lebih berani melepaskan.
Sebab kadang, kekuatan sejati bukan terletak pada menggenggam dengan paksa,
melainkan pada hati yang rela membuka pintu,
meski tahu setelah itu hanya ada sunyi yang menemani.
Dan di situlah kebijaksanaan cinta:
ia mengajarkan kita bahwa kehilangan bukan musuh,
melainkan guru yang paling jujur.
Bahwa luka bukan kutukan, melainkan jalan untuk menemukan diri yang lebih utuh.
Bahwa cinta sejati tidak mati meski dilepas,
ia hanya berubah rupa, menjadi doa yang diam-diam menjaga dari jauh.
Maka biarlah perpisahan ini tidak disebut akhir,
melainkan metamorfosa—
perjalanan untuk menjadi lebih berani, lebih bijak, dan lebih manusiawi.
Sebab setiap hati yang patah,
pada waktunya akan bertemu dengan dirinya sendiri,
dan di sanalah ia akan menemukan rumah yang tak pernah meninggalkan.
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael.
Terinspirasi dari cerita seorang kawan, yang lelah berjuang.
Komentar
Posting Komentar