Turi

Bunga turi tidak pernah menunggu musim pesta.
Ia tidak mengemis panggung,

seperti manusia
yang kerap menuntut sorotan hanya untuk sekadar dianggap ada.

Ia mekar di halaman sunyi,
tanpa karangan bunga, tanpa orkestra.

Dan ajaibnya, ia tetap tumbuh—
sementara manusia sering layu sebab sanjungan tidak datang tepat waktu.

Orang-orang singgah,
memetik kelopaknya untuk sayur
menyisipkannya di kenduri seakan-akan
hidupnya hanyalah pelengkap nasi.
Lalu pergi begitu saja,
tanpa pamit, tanpa peduli.

Namun bunga itu tidak pernah berkoar:
ia tidak menuntut,
tidak menuliskan elegi panjang tentang kepedihan,
tidak pula meratap menagih simpati.

Ia berdiri, rapuh tetapi tabah,
sementara manusia kerap runtuh sebab disentuh angin gosip yang sepoi-sepoi.

Manusia ingin diagungkan layaknya pohon jati,
ingin dipuja sebagaimana beringin tua,
padahal dirinya masih goyah
hanya karena cibiran remeh.

Bunga turi paham letak cukupnya.
Ia tidak bermimpi menjadi legenda,
cukup menjadi penopang sederhana,
memberi guna meski diremehkan.

Ironisnya, manusia kerap berambisi menjadi pusat dunia,
padahal dirinya sendiri
tak mampu bertahan tanpa validasi.

Belajarlah dari turi:
hidup tidak perlu disandarkan pada perhatian.
Bukan jumlah tepuk tangan yang membuatmu tegak,
bukan pula janji kebersamaan yang memastikanmu utuh.

Pada akhirnya, setiap kelopak gugur sendirian—
dan dunia hanya akan lewat,
sibuk dengan urusannya sendiri.

Apabila manusia hanya datang untuk mengambil,
biarkan.
Apabila mereka pergi tanpa peduli pada lukamu,
tertawakan saja.

Begitulah tabiatnya:
tamu yang serakah,
penonton yang lalai.

Hidup bukan sandiwara untuk menunggu sorakan penonton.
Hidup adalah perkara berdiri hingga akhir,
meski tak seorang pun mencatatmu dalam sejarah,
meski dunia lebih sibuk menatap bayangannya sendiri.

Jadilah seperti turi:
berguna tanpa perlu disanjung,
tegak tanpa butuh payung,
dan gugur dengan martabat,
tanpa pernah berutang terima kasih
kepada dunia yang bahkan lupa
kau pernah mekar.

__________________
Karya: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)