Akulah yang tetap tinggal
Aku pernah menjadi tanah yang menampung hujan,
Basahnya tak menyakitkan,
Tapi lama-lama longsor juga.
Sebab rintik pun tahu caranya menggurat luka.
Pernah kupelajari cara dunia bicara,
Tak lewat suara, tapi lewat kehilangan tiba-tiba.
Maka saat engkau bertanya,
“Apakah aku takut kehilanganmu?”
Ketahuilah—
Tanganku terbiasa menggenggam yang akhirnya melarung.
Aku tetap ingin menjagamu,
Seperti langit menjaga sisa jingga setelah matahari pulang,
Tak ada jaminan terang,
Namun masih ada sisa warna yang enggan hilang.
Engkau mungkin tak melihat,
Tapi aku berdiri di tengah gempa yang tak terdata,
Menjadi sunyi yang menyangga reruntuhan,
Menjadi kabut yang tak pernah cukup padat untuk ditangkap,
Namun tetap menyelimuti pagi agar ia tak merasa telanjang.
Siapa bilang retakan hanya milik benda pecah?
Hatiku pun telah memuat celah,
Namun namamu tinggal di sela-sela—
Tak tergoyah, tak tergantikan.
Rasa ini tak butuh alasan,
Ia hidup seperti api kecil di dasar danau beku,
Tak tampak, tak dipuji,
Namun tetap menyala tanpa tahu siapa yang akan datang.
Aku mencintaimu tanpa naskah,
Tanpa perlu kata pengantar atau halaman terakhir,
Seperti malam mencintai bintang yang berpindah-pindah,
Namun tetap menatap langit yang sama.
Engkau adalah ruang yang tak bisa kutinggalkan,
Bukan karena tak tahu jalan keluar,
Tapi sebab setiap dindingmu menyimpan gema langkahku sendiri.
Aku bukan penyair yang lihai bermain kata,
Aku hanya seseorang yang tak pernah selesai diam—
Dalam setiap namamu yang kusebut tanpa suara.
Aku adalah yang paling mencintaimu…
Bukan karena aku paling sering menyebut namamu,
Tapi karena aku satu-satunya
yang tetap tinggal... bahkan setelah semua hal memilih pergi darimu.
Dan jika akhirnya aku tak lagi tampak,
ingatlah—
aku bukan yang paling keras menyebut namamu,
aku hanya yang paling lama tinggal… saat tak ada satu pun yang mau menunggu.
_______
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar