Badut dan pisaunya

Hidup ibarat badut.
Tertawa lantang dibawah sorot lampu, sementara darah merembes perlahan dibalik senyum yang dipaksakan..

Begitulah dunia bersenda gurau:
melukai, lalu menuntut kita menghibur,
seakan derita hanyalah atraksi,
air mata sekadar cat wajah panggung.

Kehidupan, sutradara licik,
mengarahkan lakon tanpa bertanya,
menghias wajah dengan tawa palsu,
hati koyak dalam diam.

Pisau dilempar dengan presisi,
selalu menancap di dada,
penonton bersorak riang
sementara luka dijadikan lelucon.

Yang melukaiku bersuka cita,
resah kupeluk erat
seperti batu terikat di punggung—
berat, bisu,
namun tak terpisah dari langkah.

Lucu, sungguh lucu:
susah ditambah susah,
tak mencari masalah, masalah datang,
seperti hadiah busuk yang dipaksa kuterima.

Hidup itu memang lucu:
Menjual sabar di pasar sepi, tak ada yang peduli,
membagi luka bagai brosur murahan, dilempar ke jalan sunyi.
Manusia tampak jenaka, mengemis tepuk tangan basi,
mengira sandiwara reyot itu panggung surgawi,
nyatanya cuma sirkus murahan yang menipu diri.

Namun dari sirkus getir ini
kusadari satu hal:
gelak tawa orang lain
tak pernah lebih berharga
daripada tenangnya jiwa sendiri.

Hidup boleh menampar,
menjadikan kita bahan lawakan,
tetapi aku berhak memilih
untuk tidak selamanya menjadi panggung olok-olok.

Hidup hanyalah badut tolol—
tertawa sambil berdarah,
jatuh cinta pada pisaunya sendiri,
dunia bertepuk tangan tanpa peduli.

Biarlah.
Jika itu gurauan terbaiknya,
aku pun menertawakan balik
hingga hidup kehabisan candanya.


_____________
Karya: Sarah Bneiismael
Disempurnakan oleh: Tuan Kopi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)