Bayangan dibawah lampu jalan
Aku berjalan seperti bayangan di bawah lampu jalan,
Berwujud, tetapi tak pernah dianggap ada.
Setiap langkahku kosong,
seperti suara yang ditelan lorong panjang tanpa ujung.
Aku merasa terlalu berdosa untuk mati,
namun hidup ini terlalu sempit untuk menampung luka.
Kekuatan yang tampak hanyalah topeng kaca, retak sedikit, pecah semua
Aku ingin dipeluk,
Namun tak ada siapapun
Maka wajar aku diasingkan,
seperti batu jalanan yang ditendang kesegala arah.
Maka wajar aku disepelekan,
seperti bunga liar yang diinjak sebelum sempat mekar.
Kesedihan menempel seperti tanah basah di telapak kaki,
tak bisa dibersihkan, selalu mengikuti ke mana pun pergi.
Aku menaruh maluku di bawah bantal,
dan menyembunyikan air mataku di balik tirai malam.
Aku menulis doa tanpa alamat,
mengirimkannya pada langit yang terlalu jauh untuk menjawab.
Aku berbisik pada cermin,
namun yang menatap balik hanyalah wajah letih yang asing.
Aku lelah, sampai kata-kata kehilangan makna.
Aku kosong, sampai senyum terasa seperti dusta.
Aku bertahan, bukan sebab kuat,
melainkan napas ini masih memaksa keluar masuk.
Jika esok tiba, biarlah ia datang dengan langkah pelan.
Jika tidak, biarlah malam tahu aku telah berjuang hari ini.
Aku pun diam seperti bayangan terakhir di bawah lampu jalan,
tak menuntut cahaya, tak menolak gelap.
Biarlah langkahku larut bersama malam—
hingga pasrah menjadi cara jiwa menemukan tenang.
________
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar