Benih yang tak pantas tumbuh di ladangmu
Kau adalah ladang yang setia pada musim:
menerima hujan tanpa mencaci,
menyimpan kemarau tanpa retak.
Segala yang datang kau baca dari arah angin,
segala yang pergi kau lepas seperti daun kering.
Kesedihan bukan musuh bagimu;
ia tumbuh diam sebagai akar—
menguatkan tanah saat langit
lupa cara setia.
Lalu aku datang
sebagai benih gugur
dari pohon patah—
membawa celah masa lampau
yang kupendam dalam kepasrahan.
Kukira aku akan tumbuh, memberi hijau—
tapi kecambahku rapuh sejak biji,
dan jamur menyusup
ke ladangmu yang tabah.
Sejak itu,
langitmu langitmu tak lagi biru.
Petir lebih sering singgah,
dan hujan tak lagi memeluk—
hanya menghantam.
Namun kau masih berdiri,
menghamparkan tanahmu bagiku,
seolah musibah yang datang
bukan karena aku, melainkan karena musim lupa caranya lembut.
Tapi aku tahu:
aku datang bersama musim buruk,
dan ladangmu mulai lelah
menjadi tanah bagi benih
yang tak tahu cara hidup.
Maaf—
aku datang tak utuh,
dan berharap ladang melengkapiku.
Jika kau ingin mencabutku,
menyudahi akar-akar yang menyakitkan,
aku mengerti.
Sebab mencintaimu
adalah membiarkanmu ditumbuhi benih lain yang lebih layak.
Meski aku harus lapuk
di tanahmu sendiri.
Biarlah angin membawaku pergi
tanpa jejak, tanpa bekas,
tanpa harus mengubah musimmu lagi.
Aku tak akan menuntut
untuk tetap menjadi benih di ladangmu
jika langkahmu suatu hari
ingin bebas dari musimku yang gaduh.
Aku paham:
tidak semua tanah bisa terus menampung
akar yang tak kunjung kuat,
dan tidak semua cinta
harus bertahan di tengah patah.
Kau sudah cukup menjadi ladang
yang tabah menerima celah-celahku.
Jika kini kau lelah,
dan memilih menjadi tenang tanpaku,
aku akan merelakan—
meski angin membawa tubuhku jauh dari hangatmu.
Bukan karena aku ingin pergi,
tapi karena aku mencintaimu
dengan cara paling diam:
menerima bila keberadaanku bukan musim
yang ingin kau ulangi.
Maka bila aku harus luruh
seperti daun gagal tumbuh,
biarlah aku luruh dengan lembut,
tanpa menuntut kau menengok.
Biarlah retakku hilang
bersama tanah dan waktu,
dan kau—
tetap menjadi ladang yang indah,
yang tenang.
Tanpa harus menanggung benih sepertiku lagi.
__________
Ditulis Oleh: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar