Bulan, Tuntun Aku Pulang

Bulan, tuntun aku menembus malam yang pekat,
Di mana lampu-lampu kota menari tanpa henti,
Namun tak satupun menembus rongga hati yang sunyi.
Rembulan, jadilah pelabuhan di samudra sepi,
Tempat jiwaku bersarang, berlabuh dari hiruk dunia.

Aku adalah daun yang terlepas dari rantingnya sendiri,
Terbawa arus keramaian tanpa arah,
Namun dalam sepi, aku menemukan akar,
Menyatu dengan malam, menyerap cahaya yang redup.

Biarkan musik kota berdentang seperti gelombang jauh,
Aku hanyut dalam tempo yang lambat,
Mengukir diamku sebagai mantra,
Menyulam ruang kosong menjadi selimut ketenangan.

Bulan, bisikkan padaku bahasa rahasia para bintang,
Yang tak bisa dimengerti oleh kaki yang tergesa,
Ajari aku menyeberangi malam tanpa tersesat,
Menjadi bayang lembut di antara desir angin dan cahaya.

Setiap detik yang lewat adalah kristal yang rapuh,
Aku genggam dengan jemari yang gemetar,
Tak ingin dilepas, tak ingin terganti,
Karena sunyi ini bukan kekosongan,
Melainkan samudra di mana aku belajar memahami diri.

Bulan, bawa aku pulang—
Ke tempat di mana waktu meleleh perlahan,
Ke ruang di mana jiwa dapat menghela napas panjang,
Di mana sepi bukanlah kesepian,
Tetapi simfoni yang menenangkan,
Menjadi rumah bagi bayanganku sendiri.

Dan jika angin malam menelusupkan dinginnya,
Aku akan tetap di sini, terselubung diam,
Menggenggam setiap rembulan yang jatuh,
Seperti pelita yang menuntun langkahku,
Menyadarkanku bahwa kembali bukanlah menyerah,
Tetapi menata hati untuk menerima ketenangan yang abadi.



________
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael 
Terinspirasi dari lagu Maudy Ayunda - Bulan bawa aku pulang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)