Cinta yang kutitipkan pada doa
Suaramu datang seperti angin lembut,
menggetarkan tirai hatiku yang lama terdiam.
Tak ada tatap, tak ada genggam,
hanya nada sederhana
yang entah mengapa terasa
seperti doa yang jatuh dari langit malam.
Aku pun heran pada diriku,
bagaimana mungkin rindu bisa lahir
dari jarak yang tak pernah bersua?
Bagaimana mungkin hati bergetar
pada seseorang yang hanya kutemui
di antara gelombang suara?
Namun ada resah yang membayang,
seperti bayang-bayang bulan
yang indah tapi rapuh.
Aku tahu dirimu bukan tanpa ikatan,
ada janji yang harus kau jaga,
ada nama yang sudah lebih dulu bersanding
dalam hidupmu.
Maka aku takut, sungguh takut.
Takut langkahku ini
menggores dosa yang tak kasat mata.
Takut rinduku menjelma api,
membakar yang semestinya tetap utuh.
Dalam hatiku, aku berbisik lirih:
“Ya Allah, jika rasa ini salah,
maka jauhkan aku dengan cara yang indah,
tapi bila Kau ridhoi,
bimbinglah agar tak melukai siapa pun.”
Dan anehnya, di sela takut itu,
aku juga merasa bahagia.
Bahagia karena dirimu
memandangku dengan cara yang tak kuminta,
bahagia karena aku dihargai
meski hanya lewat kata,
meski tak ada janji manis,
meski dunia nyata
tak pernah mempertemukan kita.
Aku mencoba meyakinkan diriku,
bahwa ini hanyalah cara
untuk kembali belajar mencintai.
Bukan untuk merebut,
bukan untuk merusak,
melainkan sekadar mengerti
bagaimana rasanya disukai
tanpa harus berpura-pura menjadi siapa.
Jika kelak kita hanyut
dan menghilang seperti kabut subuh,
biarlah begitu.
Jika ternyata ini hanya percikan kecil
yang tak pernah menjadi nyala,
aku tetap ingin mengenangnya
sebagai anugerah singkat
yang Tuhan titipkan di sela luka.
Sebab aku percaya,
ada cinta yang memang ditakdirkan
untuk menyatu di bumi,
namun ada juga cinta
yang hanya boleh hidup di doa,
tanpa pernah berani turun ke dunia nyata.
Ditulis Oleh: Sarah Bneiismael
✨ Motivasi dari Puisi ini.
Kadang hidup mempertemukan kita dengan rasa yang indah, meski bukan pada waktu atau keadaan yang tepat. Dari sini kita belajar, bahwa tidak semua cinta harus diperjuangkan sampai dimiliki. Ada cinta yang cukup dijaga dalam batas wajar, agar tidak berubah menjadi luka bagi orang lain.
Puisi ini mengingatkan bahwa perasaan memang tidak bisa kita pilih, tapi bagaimana kita bersikap adalah keputusan. Kita bisa menikmati hadirnya rasa tanpa harus merusak, kita bisa belajar mencintai tanpa harus menguasai.
Yang terpenting adalah kejujuran pada diri sendiri: berani mengakui rindu, tapi juga berani menjaga agar tidak melampaui batas. Karena cinta sejati bukan hanya tentang kebahagiaan pribadi, melainkan juga tentang tanggung jawab, kesabaran, dan keikhlasan menerima takdir.
---
🌸 Jadi.
Cinta itu anugerah, tapi jangan sampai anugerah berubah jadi dosa. Nikmatilah rasa, jaga dengan bijak, dan biarkan waktu serta Tuhan yang menentukan ujungnya.
Komentar
Posting Komentar