Di Ujung Dahan Sunyi

Aku tak lagi menghafal arah angin,
sebab aroma yang dulu kupuja
telah larut dalam waktu yang tak bisa kupeluk.

Ada wangi yang tinggal di udara,
tapi tak pernah benar-benar turun
menyentuh sarangku.

Ia hanya singgah di hidungku,
tidak di hatiku.

Barangkali aku pernah terlalu berani,
menerka musim mekar tanpa peta,
menawar pada kelopak yang telah dijaga semesta,
dengan madu yang bahkan belum sempurna kuramu.

Aku—lebah.
Bukan pahlawan dalam puisi,
bukan perayu bunga yang rajin menulis janji di kelopak.
Aku hanya tubuh mungil
yang mencoba bertahan di antara bunga-bunga
yang bicara dalam bahasa yang tak kumengerti.

Lalu aku pergi.
Bukan karena diusir,
tapi karena tak ada ruang
selain diam yang makin tipis.

Aku belajar berhenti mencari
dalam kebisingan warna,
dan mulai mendengar suara dalam teduh yang sunyi.

Kutatap kelopak yang tidak menari untukku,
namun tak juga menjauh.
Ia tidak mengisyaratkan tempat,
hanya kehadiran.

Dan ternyata,
itu cukup untuk membuatku duduk sejenak,
melipat sayapku dengan lega.

Tapi aku tahu,
ada bunga yang menyambut semua angin
dengan senyum yang tak bisa dimiliki siapa pun.

Ia indah,
bukan karena memilih,
melainkan karena membiarkan.

Dan aku,
hanyalah embun yang menguap
sebelum sempat tinggal.

Di sinilah aku,
duduk di ujung dahan sunyi,
mengumpulkan madu dari dalam diri,
bukan lagi dari luar.

Aku tak menolak terbang,
hanya sedang memilih
untuk tidak menuju apa pun.

Ada damai dalam tak mendekati.
Ada utuh dalam menunggu
tanpa harap dibalas.

Aku bukan lebah yang hilang arah.
Aku hanya tak ingin lagi
menyalahkan bunga
atas jarak yang seharusnya kujaga sejak awal.

Maka aku menyimpan madu bukan karena pelit,
melainkan karena tahu:
rasa manis tak akan berarti
jika diberikan pada yang tak haus.

Selanjutnya aku memutuskan tak lagi menghafal arah angin.

Sebab aku, telah menjadi tempat pulang bagi diriku sendiri.


_______
Ditulis Oleh: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)