Doa dibawah sayap Garuda | Puisi Nasionalisme, Harapan dan kebangkitan bangsa. (Bebas)
Kulihat Ibu Pertiwi,
menahan perih di balik senyumnya,
hati yang retak oleh janji,
tak kunjung disatukan oleh amanah luhur bangsa.
Rakyat berdiri di jalanan,
dengan suara lantang bak ombak,
menggedor pintu keadilan,
menuntut para pewaris kursi bangsa,
agar kembali ingat sumpah,
bukan sekadar pesta kata di balai kuasa.
Wahai para pemegang palu negeri,
apakah engkau wajah sejati bangsa?
Ataukah sekadar retakan rapuh di atas penderitaan,
yang menari di irama kepentingan sendiri?
Jika tak mampu mengemban amanat,
lebih baik runtuhlah dindingmu,
biar tanah ini membangun tugu kebenaran sendiri.
Garuda menunduk sebentar,
sayapnya tercabik angin keserakahan,
namun doa rakyat tak pernah padam—
dari desa, dari kota, dari pelataran waktu,
ia bangkit kembali,
mengepak ke langit biru harapan.
Indonesia,
meski kau luka, kau tetap pilar,
meski kau dipenjara dusta, kau tetap merdeka,
sebab rakyatmu adalah api,
yang tak pernah padam oleh hujan pengkhianatan.
Dan Ibu Pertiwi akan tersenyum lagi,
jika keadilan benar-benar singgah,
bukan sekadar ilusi yang berlari,
tetapi kebenaran sejati,
yang membuat Garuda terbang gagah,
menjaga bumi pertiwi selamanya.
Oleh: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar