Gelanggang gensi
Gemawan belum pecah,
namun langit sudah menampung sabda yang tak sempat diturunkan.
Pendhapa Agung menahan napas,
saat dua kehendak duduk
di singgasana kehormatan yang saling meninggi.
---
Satu datang dari tanah tinggi Parahyangan,
membawa putri bak ratna manikam,
dihantarkan bukan sebagai persembahan,
melainkan sebagai kawin akal dan rasa,
antara dua kadatuan yang hendak bersetia.
---
Namun Surya Majapahit tak menyambut dengan kidung,
melainkan dengan gelap di antara aling-aling,
di mana sabda disimpan
dan prasangka dibiarkan menjelma pusaka.
---
Yang semestinya menjadi pisowanan agung,
berubah menjadi ajang pengukuhan takhta.
Yang semestinya menjadi pelabuhan cinta,
berubah menjadi gelanggang gengsi.
---
Keris pun mencium tanah
sebelum hati sempat bicara.
Dan suara gamelan
tak lagi menari di udara,
melainkan bergema sebagai duka
di sela gapura yang menahan arwah.
---
Wahai yang mendengar,
ketahuilah:
tak semua kemenangan harum baunya.
Kadang yang kau menangkan
hanya kehormatan semu
yang dibeli dengan air mata
dan keturunan yang tercerai.
---
Bubat bukan sekadar nama
di atas sengkala.
Ia adalah piwulang
bahwa tanpa kebijaksanaan,
kehormatan hanya sebilah keris yang tak punya sarung.
---
Bukan musuh yang menjatuhkan Majapahit,
melainkan suara dari dalam
yang enggan ditundukkan.
Karena yang tak mau direndahkan,
seringkali justru merendahkan yang lain lebih dulu.
---
Hari ini,
meski gapura Wringin Lawang masih berdiri,
dan candi masih menulis bayang-bayangku di tanah,
aku tahu,
kerajaanku yang sesungguhnya
telah lama roboh
saat sabda dikalahkan oleh kesombongan.
---
Maka pelajarilah dari Bubat—
bukan nama dan tempatnya,
tetapi senyapnya:
senyap setelah nyawa,
senyap setelah kata terlambat datang,
senyap setelah segalanya terbakar
bukan oleh perang,
tetapi oleh tafsir yang tak mau diredam.
---
Karena sejatinya,
yang agung bukan yang tak pernah tersinggung,
melainkan yang mampu menahan tangan
meski gengsi sudah menusuk jantung.
---
Biarlah pusaka tinggal di lempung,
asal sabda tetap hidup di langit-langit batin.
Dan tak perlu menjadi raja
untuk mengerti:
bahwa penguasa sejati,
adalah ia yang mampu meredakan murka.
Bukan menghunusnya duluan.
---_____
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael
Note:
Puisi ini mengangkat peristiwa Bubat sebagai refleksi atas kegagalan diplomasi antara Kerajaan Majapahit dan Sunda, ketika niat pernikahan politik berubah menjadi tragedi akibat perbedaan pandangan, ambisi kekuasaan, dan harga diri yang tidak bisa diturunkan.
Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa konflik tidak selalu lahir dari permusuhan, tetapi sering muncul karena kesalahpahaman dan ego yang tidak diredam.
Meski terjadi di masa lampau, tragedi Bubat tetap relevan hari ini—sebagai pengingat bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan akan menghancurkan kehormatan, dan bahwa kemampuan menahan diri jauh lebih mulia daripada menang dengan cara memaksakan kehendak.
Komentar
Posting Komentar