Hasil sebuah renungan
Beginilah adanya hidup:
suatu perjalanan yang tak pernah menanyakan kesiapan,
namun tetap menuntut langkah dari setiap insan.
Aku telah menapaki jalan ini,
seringkali dengan hati yang lelah,
sering pula dengan tubuh yang nyaris tak berdaya.
Namun aku terus berjalan,
sebab aku tahu,
meski pasrah itu melekat,
pasrah bukanlah menyerah.
Ia adalah kesadaran yang dalam,
bahwa aku hanyalah hamba
dengan batas yang jelas,
namun dengan kehendak
untuk tetap berusaha sampai detak terakhir.
Ada masa di mana manusia di sekelilingku
menatap dengan penuh kagum.
Mereka tersenyum,
dan sejenak aku merasa berharga,
seperti bunga yang sedang mekar,
dihampiri oleh mata yang memuja keindahannya.
Dalam tatapan itu,
aku menemukan kebahagiaan yang sederhana,
seakan-akan segala perjuanganku
tidak sia-sia.
Namun waktu mengajarkan sebuah kebenaran:
kagum mereka tak pernah menjelma abadi,
pujian mereka hanyalah singgah sebentar,
sebab setiap insan memiliki kehidupannya sendiri
yang tak dapat kuseret
untuk selalu menjaga senyumku.
Mereka tetaplah manusia,
dan manusia, betapa pun tulusnya,
tak pernah diwajibkan
menanggung bahagia orang lain sepenuhnya.
Maka aku merenung:
alangkah kelirunya bila aku
menggantungkan ketenangan pada kebaikan mereka.
Alangkah sia-sianya bila aku
menanti cahaya yang tak selalu datang
dari langit orang lain.
Sungguh, ketentraman bukanlah hadiah
yang dititipkan dari luar,
tetapi ia adalah suluh yang harus kutemukan
di kedalaman hatiku sendiri.
Aku pun bersujud dalam batin,
berdoa dengan lirih:
“Ya Tuhan, ajarilah aku
untuk terlebih dahulu mencintai diriku,
agar aku mampu mensyukuri anugerah-Mu.
Jadikan aku insan
yang tak merasa kekurangan,
sebab segala sesuatu yang Engkau berikan
sesungguhnya telah cukup.
Kuatkan aku agar tidak bersandar
pada rapuhnya sandaran manusia,
tetapi hanya pada-Mu,
sumber segala kebahagiaan.”
Kini aku menghadap cermin,
dan aku berkata pada diriku sendiri:
“Engkau cukup, engkau berharga.
Jangan engkau biarkan hatimu bergantung
pada tangan yang bukan milikmu.
Bahagiamu adalah tanggungjawabmu,
dan engkau sendirilah penjaganya.”
Maka aku belajar menyukai diriku sendiri.
Aku belajar memandang setiap kekurangan
sebagai jalan untuk rendah hati,
dan setiap kelebihan
sebagai amanah yang patut dijaga.
Aku belajar bersyukur atas yang sederhana,
karena syukur adalah kunci
yang membuka pintu ketenangan.
Aku tidak lagi ingin menagih
janji-janji dunia yang fana,
tidak pula meminta perhatian tanpa henti.
Bahagiaku kini kutanggung sendiri,
bukan dengan sombong,
tetapi dengan sadar
bahwa itulah jalan yang Engkau titipkan.
Dan bila suatu hari orang lain datang
membawa tawa atau senyum,
aku akan menyambutnya dengan syukur,
bukan sebagai sandaran,
tetapi sebagai pelengkap anugerah-Mu.
Ya, beginilah akhirnya aku mengerti:
bahagia bukanlah sesuatu yang kupinjam,
melainkan sesuatu yang kupelihara.
Dan selama aku menjaga hati
untuk selalu dekat kepada-Mu,
tak ada yang benar-benar hilang.
Sebab Engkau, Tuhan,
adalah sumber segala kekuatan,
sementara aku hanyalah hamba
yang belajar untuk ikhlas.
Oleh: Sarah Bneiismael
Pesan:
Jangan gantungkan bahagiamu pada orang lain, sebab mereka pun memiliki hidupnya sendiri. Belajarlah mencintai dirimu, mensyukuri apa yang ada, dan menjaga hatimu tetap lapang. Kebahagiaan adalah tanggung jawabmu, dan hanya engkau yang mampu merawatnya.
Komentar
Posting Komentar