Ingin berterimakasih, saya sangat bersyukur. | Naratif reflektif

Beberapa hari terakhir aku merasa seperti pulang,
meski bukan ke rumah yang kutinggali.
Entah bagaimana, sambutan hangat itu
membuatku betah berlama-lama,
seakan waktu ingin berhenti di sana.

Ada banyak wajah yang masih mengenalku,
ada tawa yang tidak dibuat-buat,
dan perhatian sederhana yang membuatku sadar—
ternyata dihargai adalah rasa yang begitu kurindukan.
Seperti kursi kosong yang diam-diam disiapkan
untukku sejak lama,
dan kini kutemukan kembali tempat dudukku.

Tidak ada persaingan di sini.
Yang ada hanya bahu yang saling menegakkan,
pujian yang jatuh dengan tulus,
dan nasihat yang disampaikan dengan lembut
bila ada yang keliru langkah.
Benar-benar seperti rumah,
meski aku tak pernah menyimpan kuncinya.

Malam ini aku pun bertemu suara,
indah, meneduhkan,
membuatku tersenyum sendiri
tanpa alasan yang bisa kujelaskan.
Nada itu seperti embun di pagi hari,
menyentuh perlahan,
meninggalkan jejak sejuk di hati
yang lama kering oleh sepi.

Aku sadar, aku tak membawa pulang apa-apa,
tidak ada harta, tidak ada keuntungan nyata,
namun justru di situlah letak syukurnya.
Karena dari tempat ini,
aku menemukan kembali ketenangan,
aku merasa kembali berarti,
dan aku tahu, aku tidak sepenuhnya sendirian.

Malam ini, aku hanya ingin berterima kasih—
pada sambutan yang tulus,
pada suasana yang seperti rumah,
pada suara yang membuatku tersenyum.
yang akhirnya menghadirkan lagi
rasa damai yang sekian lama kutunggu.

-Sarah Bneiismael

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)