IRONI SANG PUJANGGA
Engkau pandai merangkai diksi,
laksana tukang tenun
yang menabur benang keemasan di permukaan kain.
Indah rupanya, namun rapuh.
Seratnya mudah koyak oleh sentuhan kecil.
Kau berdiri di hadapan khalayak,
menegur dengan suara lantang,
menjatuhkan keberanian orang lain
seperti raja yang menolak persembahan rakyatnya.
Namun, lihatlah ironi itu—
seorang raja tanpa takhta,
berdiri di singgasana,
Dipuji oleh egonya sendiri.
Aku pun bersyukur,
tak pernah menadah cinta
dari hati yang hanya pandai menabur kata
namun gagal menumbuhkan Cinta.
Apa arti manis untaian kalimat,
jika tak sanggup mengangkat derajat
orang di sekitarmu?
Apa guna keelokan syairmu,
jika setiap baitnya hanya mengkerdilkan
mereka yang kau nilai tak pantas bersuara.
Kau ingin dipuja,
namun semakin kau bicara Membuatku semakin miris
Seperti burung yang bersuara merdu,
tetapi sayapnya patah
dan tak pernah sampai ke langit..
Sungguh, Menyedihkan.
Maka turunlah dari mimbar,
jangan lagi kau jadikan panggung
sebagai cermin kesombonganmu.
Sebab kelak sejarah tak menuliskanmu
sebagai pujangga,
melainkan sebagai ironi:
Seseorang yang pandai berkata,
namun gagal menjadi bijaksana.
______
Oleh: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar