Jejak Tak pernah Padam

Mereka berarak dengan bendera baru,
membangun tembok dari batu yang pernah kuangkat,
menyalakan obor dengan api yang dahulu kuberi.
Tak apa,
sebab cahaya yang tulus tak pernah hilang,
meski berpindah tangan,
meski disebut dengan nama yang berbeda.

Fitnah boleh beterbangan di udara,
seperti debu yang diterbangkan angin sesaat.
Namun debu akan jatuh,
sedang kebenaran tetap berdiri,
tak terguncang, tak terhapus.

Aku tidak menoleh untuk mencari pembenaran,
aku tidak menunduk untuk memohon pengakuan.
Aku hanya melangkah,
seperti bunga yang tetap mekar
meski musim berganti dan mata yang memandangnya berpaling.

Jalan lama, jalan baru semuanya adalah bagian dari kisahku.
Aku pernah menjadi awal,
dan kini aku juga menjadi kelanjutan.
Tiada yang perlu kusesali,
tiada yang perlu kusangkal,
karena dari manapun mereka berjalan,
jejakku tetap tertulis di tanah yang mereka lalui.

Dan aku,
sebagai seorang wanita—
tidak hancur oleh pengkhianatan,
tidak runtuh oleh tuduhan,
melainkan terus tumbuh,
menjalani hidup dengan tenang,
menyulam hari dengan cara yang kupilih sendiri.

Jika mereka berhasil,
itulah bukti kekuatan dari api yang pernah kuberi.
Jika mereka jatuh,
itulah akibat dari kesombongan yang mereka tanam sendiri.
Sementara aku,
tetap berwibawa dalam diamku,
tetap anggun dalam langkahku,
dan tetap indah
seperti cahaya yang tak pernah padam.

Oleh: Sarah Bneiismael
Pesan:
"Bagi saya, pengkhianatan bukan akhir. Orang boleh pergi, boleh membuat jalan baru, tapi nilai yang pernah mereka ambil tetap berasal dari apa yang sudah saya tanamkan"


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)