Kepada diri

Hidup,
sering kali hadir dengan pukulan yang tak terduga,
mengguncang hati dengan hal-hal
yang tak pernah kuinginkan.
Namun kutahu,
ia bukan datang untuk menjatuhkan,
melainkan menuntun langkahku
agar belajar berserah,
bukan menyerah.

Sepi,
bukan tanda bahwa aku kehilangan,
melainkan bisikan lembut kehidupan
yang hendak menguji ketegaranku.
Ia berkata lirih dalam diam:
“Lihatlah, kemandirian sedang kau jalani.
Kesendirian ini bukan kutukan,
tetapi tempaan.”

Aku teringat,
hidup telah melatihku dengan cara yang luar biasa—
mencetak luka menjadi pelajaran,
membiarkan tangis menjadi penguat,
dan menjadikan sunyi
sebagai guru yang tak kenal lelah.

Maka aku bertanya pada diriku sendiri:
kapan terakhir aku menuturkan terima kasih
kepada jiwa yang setia menuntunku sejauh ini?
Kapan terakhir aku memohon maaf
atas segala caci dan beban
yang tanpa sadar kutimpakan padanya?

Wahai diri,
engkau yang sabar dalam diam,
engkau yang bertahan di balik gemetar,
engkau yang terus berdiri
saat dunia menjatuhkan.
Hari ini aku ingin memelukmu
dengan sebaris doa,
dengan seribu syukur,
dengan maaf yang tulus.

Sebab dirimulah rumah
yang tak pernah kutinggalkan,
jiwa yang tak pernah kuabaikan,
dan sahabat sejati
yang selalu bersamaku
hingga akhir riwayat.

Oleh: Sarah Bneiismael

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)