Kepada Tuan yang Mahasastra
Tuan
Aku tahu, engkau Maha Tinggi,
duduk di altar bahasa,
dengan pena yang lebih tajam
daripada lidah siapa pun di ruangan ini.
Aku hanyalah pejalan kecil,
membawa prosa yang mungkin lusuh,
membawa suara yang barangkali sumbang,
namun tetap kuletakkan dengan tulus
sebagai bagian dari dunia sastra
yang sama-sama kita junjung.
Namun alangkah agungnya,
bila ilmu yang setinggi langit
sudi turun, menjadi hujan yang menyejukkan bumi,
bukan petir yang membakar ladang
hingga bunga-bunga kecil tak lagi berani tumbuh.
Sebab bukankah, jika kita belajar dari matahari,
meski ia tinggal di langit yang tinggi, ia
tak pernah berkata, “lihatlah, aku tinggi,”
melainkan memberi cahaya
yang membuat bumi hijau dan subur.
Lalu, mengapa engkau—
yang juga Mahatinggi dan Mahasastra—
justru memilih menyilaukan dengan angkuh?
Tuan,
bukankah setiap pemilik rumah
yang menamai pintunya “Puisi”
masih boleh menyilakan tamu lain duduk,
meski ia hanya membawa prosa compang-camping,
ringkih dan lapuk—yang mungkin bagimu lebih layak disebut sampah atau catatan buangan?
Meski ia tak pandai menata diksi
seperti engkau menata kata-kata?
Aku tidak berani menandingimu, Tuan.
Tidak pula hendak menggurui—
aku hanya ingin mengingatkan:
jika seorang bijak benar-benar bijak,
ia menegur dengan rahasia,
bukan menyalakan obor di tengah keramaian
agar satu salah menghitamkan semua wajah.
Tuan,
aku percaya engkau baik,
aku percaya engkau hebat,
sedangkan aku ini rendah,
hanya setitik tinta di antara bait-baitmu.
Namun bila benar engkau ingin mengajari,
ajarkanlah dengan tangan yang merangkul,
bukan dengan telunjuk yang menuding.
Sebab sastra,
bukankah lahir untuk membesarkan jiwa,
bukan mengkerdilkan sesamanya?
Dan bila kata-kataku ini,
yang lahir dari getir dan luka,
menjadi duri di telapak kakimu,
maka biarlah aku menanggung salahnya.
Sebab siapa aku—
sekadar pengemis kata yang tak tahu diri,
berani menyapa Tuan yang Mahasastra
dengan suara bergetar
dan pena seadanya.
Maafkanlah keberanianku,
jika tulusku terasa lancang,
jika jujurku terdengar congkak.
Sungguh, aku hanya berniat mengingatkan,
bukan menodai mahkota yang kau kenakan.
Dan jika akhirnya engkau tersinggung,
anggaplah aku hanyalah tinta
yang tercecer dari wadahnya,
tak layak mengotori altar bahasa,
tak pantas disebut apa-apa.
Namun bukankah, Tuan,
bahkan tinta yang hina pun
kadang masih sanggup
mengaburkan kilau cermin terbaik?
Sebab cermin terbaik pun,
seharusnya tak akan retak oleh pantulan kecil—
kecuali bila ia rapuh dari dalam.
Sekali lagi, maafkan kelancanganku,
Tuan yang Mahasastra.
-Puisi sampah ini, dari tangan pengemis kata yang tak tahu diri: Sarah Bneiismael
Pesan: Setiap kata dan tulisan, sekecil atau sesederhana apapun, layak dihargai. Jika ada kesalahan dari saya atau orang lain, semoga dapat dinasihati dengan baik, langsung kepada yang bersangkutan, tanpa hinaan di depan banyak orang. Saya hanyalah seorang yang belajar, yang mencoba memahami dunia kata ini, dan berharap ilmu serta pengalaman kita digunakan untuk membimbing, bukan merendahkan. Semoga dunia kata tetap menjadi tempat untuk belajar, menghormati, dan saling memberi ruang untuk berkembang.
Komentar
Posting Komentar