Kudeta perasaan

Pernah berdiri kerajaan rahasia.
tahta perasaan bertengger pada singgasana sunyi.
Mahkota rindu bercahaya seperti permata purba,
namun satu demi satu,
runtuh oleh kudeta yang tak pernah terlihat mata.

Suatu takhta digugurkan restu,
diremukkan titah tua yang tak terbantah,
perasaan ditawan di ruang takdir,
ditutup mulutnya, dikunci pintunya,
tak lagi berdaulat atas dirinya sendiri.

Mahligai lain ditumbangkan agama,
dengan palu suci yang membelah asmara,
menyalibkan rasa yang memberontak,
mengganti pelukan dengan hukum abadi,
mengganti desir hati dengan naskah suci.

Sebuah istana dirampas teman,
senyuman berubah jadi pisau perjamuan,
janji-janji di meja persaudaraan
menjadi racun yang mengikis dasar perasaan,
hingga dinding hati retak tanpa suara.

Banyak kerajaan kecil di dada manusia
telah direbut, dilucuti, digulingkan,
satu oleh restu, satu oleh dogma,
satu oleh pengkhianatan, satu oleh dunia,
hingga tinggal reruntuhan sunyi
yang berserakan bagai prasasti patah.

Namun dari kudeta yang silih berganti,
lahir pengertian yang lirih namun teguh:
tiada tahta yang abadi,
tiada mahkota yang sejati,
setiap kerajaan perasaan hanya singgah sebentar,
sebelum dipanggil takdir untuk rebah.

Dan akhirnya perasaan belajar diam,
menjadi tanah bagi luka,
menjadi udara bagi sunyi,
merelakan tahtanya direbut berkali-kali,
sebab kekuasaan rasa
tak pernah benar-benar abadi.

_______
Ditulis oleh : Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)