Kutitipkan hatiku yang remuk, kepada Mu
Aku berjalan di lorong dunia yang panjang dan penuh duri,
Setiap langkah menoreh luka, setiap napas terasa berat.
Hujan tak henti menampar wajahku, angin mengguncang hati,
Dan aku merasa tak ada lagi yang bisa kuharap, selain Engkau, Ya Allah.
Aku teringat Nabi Yunus a.s., terjebak dalam gelapnya perut ikan,
Sendirian, kesepian, hatinya tercekik oleh penyesalan yang dalam, dan ia berkat dengan lirih:
"Lā ilāha illā anta, subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn"
Aku membayangkan dirinya menangis dalam kegelapan yang menyesakkan,
Hanya bisa memohon pada-Mu, meratap dalam sepi,
Seakan dunia ini lenyap, hanya ada keputusasaan dan doa yang tersisa.
Seperti Yunus, aku merasakan dada ini terhimpit,
Setiap kesalahan dan kecewa menekan sampai nyeri,
Aku ingin menyerah, ingin pulang, ingin tenang dalam pelukan-Mu,
Engkau yang maha tau setiap ketidak kemampuanku.
Aku meneladani Nabi Musa a.s., berdiri di tengah kebingungan dan tantangan besar,
Melihat jalan yang rumit, bebannya terasa tak tertahankan, beliau berkata:
"Rabbi shrahli ṣadri, wayassir li amri, wahlul ‘uqdatan min lisānī, yafqahu qawli"
Ya Allah, lapangkan dadaku, mudahkan urusanku, luruskan jalan yang berliku,
Leraikan simpul di hati dan lidahku, agar aku mampu menghadapi hidup ini
Tanpa tersedak oleh duka yang menyesakkan,
Tanpa terpuruk oleh beban yang terlalu berat untuk dipikul sendiri.
Aku meneladani Nabi Muhammad ﷺ, yang selalu memohon kebaikan dunia dan akhirat, seraya berdoa:
"Allāhumma innī as’aluka ‘ilman nāfi‘an, wa rizqan ṭayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan"
Berikan aku ilmu yang menenangkan hati,
Rezeki yang suci dan mendinginkan jiwa yang lelah,
Amal yang Engkau ridhoi, agar hidup yang keras ini masih bisa kutapaki,
Meski langkahku goyah, dunia menolak juga menekan.
Ya Allah…
Dunia ini terlalu keras, terlalu kejam, terlalu menyakitkan,
Aku ingin menutup mata, ingin berhenti, ingin pulang pada-Mu,
Namun aku masih menatap-Mu dalam doa, meski hampir putus asa,
Menitipkan setiap luka, air mata, dan desah hati yang remuk kepada-Mu.
Aku lelah… terlalu lelah untuk berharap pada manusia,
Hanya pada-Mu aku bersandar, hanya pada-Mu aku menaruh harap,
Aku ingin menyerah, namun doa menahanku,
Aku ingin hilang, namun cahaya-Mu menuntun langkahku yang tersesat.
Jika hari-hari ini masih harus kutapaki,
Berikan aku kesabaran, kekuatan untuk menahan semua berat ini,
Jika jiwaku ingin menyerah di tengah malam yang panjang,
Jadilah pelabuhan terakhirku, Ya Allah, tempat aku pulang,
Tempat aku menemukan ketenangan yang tak bisa diberikan dunia.
Aku hanyalah hamba yang remuk, Ya Allah…
Namun dalam doa-doa Yunus, Musa, dan Muhammad ﷺ,
Aku belajar bahwa menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Mu adalah kekuatan tertinggi,
Bahwa dalam keputusasaan terdalam, Engkau adalah satu-satunya harap,
Dan hanya pada-Mu, aku menemukan kedamaian.
_________
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar