Litani Ironi Zaman

Kita hidup di abad tercepat,
namun jiwa kita terseret,
seperti sandal jepit usang
di banjir jalanan kota.

Jam digital berlari seperti kuda liar,
sementara dada kita sesak
seperti penumpang terakhir
yang selamanya ditinggal kereta.

Kebebasan katanya milik semua,
tapi lidah kita gemetar
seperti burung di sangkar kaca,
takut patah sayap karena dipandang algoritma.

Kedekatan jadi sandiwara murahan:
tangan tak lagi menggenggam,
hanya menari di atas layar,
dan senyum palsu terpajang
seperti topeng badut yang dipaksa
tertawa di pasar malam.

Pelukan terganti stiker,
air mata diganti filter,
dan tragedi disulap jadi “konten.”

Pengetahuan jatuh dari langit
seperti meteor bercahaya,
namun otak kita cuma ember bocor,
membiarkan derasnya api
menghanguskan isi kepala
hingga tinggal asap trivia
yang tak pernah menyelamatkan siapa pun.

Kita bekerja, bekerja, bekerja—
seperti tikus di roda besi,
berputar gagah menuju surga neon
yang dijanjikan papan iklan.

Namun yang kita temui hanyalah
punggung retak, mata kering,
dan sisa napas yang dirampas jam dinding.

Dunia ini katanya luas,
namun mengecil di telapak tangan,
menjadi penjara bercahaya
yang memantulkan wajah sendiri
hingga kita percaya: itu segalanya.

Derasnya suara menghantam telinga:
iklan, opini, teriakan, ramalan—
semua menyalak seperti kawanan anjing lapar,
namun saat kita raih,
yang tersisa hanya serpihan karat,
bekas pesta besi yang basi.

Dan beginilah litani kita:
hidup di karnaval listrik
dengan kursi reyot sebagai singgasana,
mengejar makna yang berkilau
namun hanya menggenggam arang,
hitam, panas, membakar telapak tangan—
tapi tak pernah memberi terang.

____________
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)