MARTABAT

Aku pernah mengira, Menitipkan isi hati pada telinga manusia
adalah cara terbaik dalam menenangkan gemericik.
Namun setiap selesai bicara,
lahirlah kegamangan:
apakah ia menutup pintu setelah mendengarku,
apakah wajahku kini disusun ulang
menjadi wajah yang pantas dikasihani?

Sungguh, dikasihani adalah kehinaan yang halus,
semacam tepukan di bahu
yang terasa seperti paku tak terlihat.
Aku tidak ingin dilihat karena rapuh,
aku ingin dipandang sebagaimana aku berdiri—
karena masih ada hembusan terakhir yang setia,
meski udara terasa berat.

Maka aku berjalan ke arah kebun,
menemukan pohon yang kurus, namun batangnya tetap tegak menolak tumbang.
Kutautkan kepala ke batangnya, kutambatkan tangan pada kulit kasarnya.
Ia tidak menilai. Ia tidak menimbang.
Ia hanya diam—dan diam itu
lebih dalam dari nasihat manapun.

Angin lewat, menyentuh ranting,
membuatku serasa diayun
oleh sesuatu yang tak ingin disebut siapa.

Di sana aku paham:
tenang tidak mesti lahir dari percakapan,
kadang ia tumbuh dari persekongkolan dengan alam—
dari pohon yang menerima segala kesahku
tanpa mengurangi hormatnya sedikit pun.

Dan aku, yang kerap kehilangan energi
setelah merobek-robek isi hati,
menemukan tenaga baru:
bukan dari manusia,
melainkan dari batang kurus
yang tetap berdiri
seakan berkata:
“Nilaimu tidak terhapus
hanya karena kau sedang letih.”


Ditulis: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)