Melebur Lara
Duhai Puan,
jelita titisan Dewi,
Sudikah kau pangku harap
yang merajut belenggu di dada,
menjalar ke sudut kepala?
Kau rapalkan mantra pemabuk sukma,
menyulap luka menjadi bayang semu tanpa rasa.
Aku bersimpuh di hadapan kenyataanmu,
tentang terang yang kehilangan makna,
tentang rindu yang dihunus sepi,
dan harapan yang enggan menari dalam sunyi.
Puan, rona senyummu
selaksa jingga di ufuk senja,
namun tetap tenggelam di penghujung cerita.
Aku menabur harap di setiap jejak yang kupijak,
berharap namamu abadi dalam kidung semesta.
Namun deras hujan lebih dulu tiba,
menghapusnya tanpa sisa, menjadikannya tiada.
Duhai Puan,
Jika cinta adalah mantra yang kau rapalkan,
aku telah terjerat jaringnya,
terkurung dalam pusaran yang tak kunjung reda.
Namun jika cinta bagimu ilusi fana,
biarlah aku meluruh bersama angin senja.
Aku menelusuri waktu,
mencari jejak yang kau tinggalkan.
Barangkali sepotong rindu masih tersisa,
namun ternyata hanya kehampaan yang bersisa,
seperti perahu tua karam tanpa arah,
terombang-ambing dalam samudra kesia-siaan.
Sudahi sudah,
biarlah perih ini karam.
Bukankah kita berhak memilih:
merangkak atau berlari?
Namun mengapa,
mengenangmu masih menjadi santapan pagi?
Harap yang redup di bawah mendung bersarang.
Aku hanya ingin kopi dan sepotong roti,
bukan janji yang kau ukir lalu ingkari.
Aku ingin melupakan,
namun namamu menempel di setiap sudut ingatan,
menggema di lorong-lorong sunyi,
menjelma angin yang membelai perlahan,
menghidupkan kembali kenangan yang seharusnya mati.
Adakah cara untuk benar-benar pergi?
Adakah mantra untuk menghapus jejakmu dari relung hati?
Puan, salahkah aku jika memilih berhenti?
Berharap pada hatimu yang telah lama mati,
menabur cinta di tanah tandus yang meranggas resah,
akhirnya berujung pada kecewa paripurna.
Aku terluka sebab mencintaimu tanpa ragu,
berharap rindu berbalas temu,
namun nyatanya hanya ilusi yang menjamu.
Melebur lara tanpa rasa,
adalah paripurna dari sebaik-baiknya mendamba.
Namun jika takdir masih berkenan mempertemukan,
biarlah waktu menjadi saksi,
bahwa aku pernah ada,
mencintai segenap jiwa,
meski akhirnya harus reda,
meski akhirnya sirna.
_____________
Karya: Pororo
Disunting oleh: Sarah Bneiismael.
Cilegon, 1 Ramadhan 2025
Komentar
Posting Komentar