Menikmati, lalu merelakan | reflektif

Mencintaimu adalah hal paling ikhlas
yang pernah aku lakukan.
Tanpa menuntut untuk dibalas,
tanpa harapan yang membebani,
hanya perasaan sederhana
yang tumbuh dengan wajar,
dan kubiarkan hidup begitu saja meski kelak harus meredup juga.

Aku memahami, pada awal pertemuan
perasaan mudah sekali hadir.
Mungkin karena rasa ingin tahu,
mungkin pula karena kebutuhan akan kebersamaan.
Namun bagiku, apa pun alasannya
tetaplah bagian dari kejujuran hati
yang pantas untuk diterima.

Maka biarlah kita menjalaninya dengan tenang,
seperti ombak yang datang lalu kembali,
seperti senja yang perlahan padam
namun tetap indah dipandang.
Hingga tiba masanya,
Mungkin perasaanmu tak lagi sama,
dan hatimu menemukan arah yang berbeda.

Apabila saat itu tiba,
aku ingin benar-benar siap melepaskanmu,
tanpa marah ataupun kecewa,
agar perpisahan tidak menghapus indahnya pertemuan.

Aku berharap, meskipun berakhir,
kita masih dapat bertegur sapa,
setidaknya sebagai teman yang saling menghargai.

Atau, bila itu pun tidak memungkinkan,
Kita bisa saling menganggap sebagai orang asing
yang tidak menyimpan kenangan pahit satu sama lain.

Sebab perasaan tidak dapat dipaksakan.
tidak selalu dapat dikendalikan,
dan tidak mesti dimiliki.
Yang dapat kita lakukan hanyalah berdamai,
menerimanya sebagaimana adanya,
serta merelakannya pergi ketika waktunya tiba.

Maka marilah kita bersepakat,
menjaga rasa ini dengan sewajarnya,
menikmatinya tanpa terburu-buru,
hingga perlahan-lahan hilang dengan sendirinya.

Dan apabila akhirnya tiba,
aku ingin kita sama-sama mengerti:
bahwa mencintai bukan tentang siapa yang bertahan,
melainkan tentang siapa yang mampu melepaskan
tanpa kehilangan kebijaksanaan.


Ditulis oleh; Sarah Bneiismael.
Pesan puisi ini:
Puisi ini mengajarkan bahwa cinta sejati tidak selalu harus memiliki. Ada kalanya mencintai berarti berani memberi ruang bagi orang lain untuk bebas memilih jalannya sendiri. Dengan mencintai secukupnya, tanpa menuntut balasan, kita belajar menjaga diri dari luka yang tidak perlu.

Mencintai dengan ikhlas bukan berarti pasrah, melainkan dewasa dalam menerima kenyataan bahwa perasaan manusia bisa berubah. Karena itu, yang terpenting bukanlah lamanya seseorang bertahan di sisi kita, melainkan bagaimana kita tetap bisa berdiri tegar saat waktunya berpisah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)