Opera Boneka Kayu

Di panggung reyot papan usang,
boneka kayu berdandan dengan senyum kaku.
Giginya terukir dari karat dingin.

Tali-tali menggantung dari langit-langit,
menggoyangkan tangan dan kaki kaku.
Setiap tarikan benang
mengusir lapar, telanjang—
perut kayunya kenyang oleh pujian.
Kardus ia kenakan sebagai mahkota,
Serbuk halus ia sebut perhiasan.

Orkestra menabuh timpani sumbang,
mengiringi lakon keagungan palsu.
Penonton terpesona
menganggap lakon murahan sebagai dogma
tak sadar senyum itu terpaksa

Langit ikut tertawa getir,
melihat lapar dikemas jadi puasa,
sepi dijual sebagai kebijaksanaan,
luka dipoles jadi kesucian.
Ah, sungguh drama murahan,
Kesunyian dijadikan tontonan,
dan pengorbanan dipamerkan
tanpa pernah ditanyakan.

Akhirnya,
tirai runtuh dengan dentum murahan.
Boneka kayu tetap diam,
talinya menertawakan martabat.
Kursi-kursi kosong berdiri pongah, Sambil bertepuk tangan

Begitulah teater palsu diwariskan
sampai kayu lapuk sendiri
dan suara “minta” pun dianggap dosa.


__________________
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)