Patung Di Tepi Sungai

Di tepi
Eufrat
——
airnya berkilau seperti kitab yang belum selesai ditulis,

Mesopotamia menyalakan
api pertama
di altar tanah liat,
lalu menggenggam
patung kecil dari batu lunak:
perempuan berperut bulat,
payudara meledak seperti musim panen,
pahanya akar bumi yang menghisap
rahim semesta.

Mereka menunduk,
menyembah pada kesuburan,
pada tubuh.
yang tak hanya tubuh.

---

Tetapi sejarah selalu membenturkan
ketuhanan dengan kekuasaan.
Di satu sisi:
suara ibu-ibu yang memintal benih,
di sisi lain:
raja yang menuntut tentara,benteng,pajak.


Patung itu berdiri
di antara dua dunia:
suara rahim dan suara pedang.

---

Kini,
aku membaca tubuhmu
seperti prasasti patah:
setengah doa,
setengah kutukan.

Engkau,patung kesuburan
yang dipajang dalam museum sunyi:
dilihat dengan tatapan turis,
diabadikan kamera,
tetapi tak lagi disembah.

---

Namun aku masih percaya,
setiap retakan di pahatanmu
adalah peta perjalanan manusia:

dari sawah yang basah,
ke istana yang tamak,
dari pelukan ibu,
ke pekik peperangan,
dari rahim
ke makam.


O,Mesopotamia,
tanah dua sungai,
engkau menyimpan tubuh perempuan
sebagai kitab rahasia:

di satu halaman-
janji kehidupan,
di halaman berikutnya-
kehilangan yang terus berulang.

Dan aku,
seperti anak kecil yang tersesat,
masih meraba patung itu
dengan jari gemetar,
bertanya:

Apakah kesuburan hanyalah mitos
atau satu-satunya doa yang bertahan
di tengah reruntuhan peradaban?


__________
Karya: Eross,2025
Terinspirasi dari sebuah cerita realita
Oleh: Sarah Bneiismail

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)