Pelukan dari dalam
Wahai jiwa yang kerap tergores,
jangan engkau merasa sendirian di persimpangan sunyi.
Ada dirimu sendiri yang selalu setia,
menjadi saksi luka, menjadi sandar bagi resah.
Aku tahu, engkau telah menelan pahit yang begitu banyak.
menghadapi gelap tanpa pelita,
namun tetaplah percaya:
di balik rapuhmu, tumbuh sekepal harapan yang tak pernah padam.
Rangkul dirimu—seperti seorang ibu memeluk anaknya,
seperti tanah menerima hujan tanpa bertanya mengapa.
Kuatlah, bukan untuk dunia yang acap lalai, lakukanlah untuk dirimu yang tak boleh kau khianati.
Ingat, hati yang teguh adalah benteng sunyi,
dan batin yang tabah adalah perisai abadi.
Biarkan dunia melempar batu tanpa henti,
kau harus tetap berdiri, meski bergetar dan sendiri.
Aku bisikkan berulang kali:
sehatlah tubuhku, sabarlah jiwaku,
kukuhlah hatiku—
sebab aku layak bertahan, aku pantas merasa tenang.
Dan ketika esok mengetuk dengan wajah baru,
sambutlah dengan senyum yang lahir dari dalam.
Karena mencintai diri sendiri
adalah keberanian paling agung yang pernah ada di dunia.
Cintailah diri sendiri.
________
Ditulis oleh: Sarah Bneiismael
Note: Naskah ini termasuk puisi reflektif karena lahir dari perenungan batin, menekankan kebijaksanaan dan penguatan diri. Berbeda dari puisi liris yang menonjolkan perasaan atau naratif yang bercerita, puisi reflektif lebih dalam karena mengajak pembaca merenung dan menemukan makna hidup.
Komentar
Posting Komentar