Pengembara Kata
Di lorong sunyi antara kertas dan tinta,
Seorang pengembara kata menunduk,
Menangkap gelora yang terselip di celah naskah,
Meresap hikmat dari pandang yang agung.
Namun, yang hadir bukanlah bimbingan,
Melainkan teka-teki yang memutar akal,
Dan kalimat panjangnya dicicipi seperti rempah di piring bangsawan yang tak pernah kenyang.
Ia diminta menyingkatnya menjadi inti yang sempurna,
Seolah sungai yang tenang tak pantas mengalir di antara pegunungan,
Dan daun gugur yang jatuh di musim hampa tak pernah layak dianggap.
Seribu kalimat bagai serpih hujan di atap senja,
Disapu angin kritik yang tak bersuara,
Menjadi pupuk tersembunyi di tanah,
Seperti gelora yang tersimpan di dasar samudra:
Diam, namun cukup kuat untuk menggerakkan arus yang bisu,
Menjadi rimba sunyi tempat benih-benih sabar bersemayam.
Pena tetap menari,
Melintasi lorong-lorong,
Menyulam huruf-huruf yang mencari ruang di antara penyingsing.
Menjadi sinar bagi benih-benih yang tak tampak,
Menjadi seperti rempah dalam sup kehidupan yang hambar,
Menandai bahwa meski tak bermahkota,
Ada keberanian di setiap titik tinta,
Ada doa di setiap lekuk kata,
Untuk menimba hikmat dari Sang Agung,
Dan menumbuhkan akar di tanah sendiri.
Tiap titik, tiap lekuk, adalah bisik sunyi—
Seperti kabut yang menelusup di celah batu,
Memberi arti bagi siapa yang sudi menafsirkan.
Di antara sunyi itu, pengembara kata belajar.
Bahwa tiap ujian, tiap tantangan yang memotong jalannya,
Adalah gelombang yang memahat batu dan seperti rempah yang memberi rasa pada kehidupan.
Bahwa kerendahan hati bukan kelemahan,
Tetapi ladang di mana keberanian dan hikmat bertumbuh.
Oleh: Sarah Bneiismael
Komentar
Posting Komentar