Peradaban dalam dirimu

Kau gelisah,
pada masa depan yang belum terlihat,
pada langkah-langkah yang masih gamang,
pada jawaban yang belum kunjung datang.

Seolah semua beban dunia
harus kau pikul sendiri,
tanpa jeda, tanpa penuntun.
Kau merasa tertinggal,
seakan segalanya harus selesai hari ini.

Tapi,
pernahkah kau melihat bagaimana sejarah berjalan?

Mesir Kuno—peradaban agung itu—
membangun piramidanya
selama puluhan tahun,
dengan batu yang berat dan sabar.
Setiap susunan tak pernah keliru tempatnya,
karena yang besar,
selalu dimulai dari kecil yang konsisten.

Romawi,
tak lahir dalam sehari.
Ia tumbuh dari desa sederhana
menjadi kekaisaran yang mengatur dunia,
karena waktu dan visi berjalan beriringan.

Tiongkok membangun Tembok Besar
bukan dalam terburu-buru,
tapi dalam pengabdian antar generasi.
Tak ada batu yang sia-sia,
semuanya ditata dengan tujuan menjaga masa depan.

Dan Yunani,
tempat lahirnya filsuf dan pemikir dunia,
tak tiba-tiba dipenuhi cahaya.
Ia belajar dari mitos, dari kegagalan,
dari debat panjang tentang hidup dan kebenaran.

Jika mereka—yang mewarnai dunia—
membangun peradaban dengan sabar dan percaya,
mengapa kau ingin segalanya segera?

Hidupmu adalah peradaban juga.
Takdirmu bukan serpihan yang acak,
tapi mozaik agung
yang sedang disusun oleh Sang Maha Arsitek.

Gagalmu hari ini
bukan kehancuran,
melainkan pondasi yang sedang diperkuat.
Ragumu bukan tanda kau tersesat,
tapi bagian dari perjalanan memahami arah.

Maka berjalanlah,
dengan iman yang tenang.
Tak perlu tahu seluruh peta,
cukup percaya pada Penunjuk Jalannya.

Karena bahkan peradaban terbesar pun,
dimulai dari satu cetak langkah.
Dan Tuhan—
tak pernah lalai menempatkanmu di waktu yang tepat.

_____
Ditulis Oleh: Sarah Bneiismael 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Isi Karya Sarah Bneiismael

Suara yang tenggelam

DIA ADALAH; SANG NOL (Untuk yang menulis iman dalam rumus dan menghapus luka dengan logika)